Catatan Perut

Ilang Kedunge

Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa Silang Budaya mencatat bahwa salah satu taktik-strategik yang diterapkan VOC untuk “menjajah” bangsa Nusantara adalah dengan “mengebiri” naluri negosiasi (bukan negoisasi).

Naluri tawar-menawar naga-naganya merupakan bakat alamiah dan bawaan mayoritas orok yang lahir di Nusantara ini. Mulai sejak kanak, perhatikan, bibit-bibit kacanggihan tawar-menawar ini melumuri sekujur aktivitas manusia Nusantara. Saya masih ingat, betapa untuk hanya sekedar berjuang mendapatkan harga yang pas dengan kondisi uang saku harian di sekolah, saya bertarung mati-matian melawan Pak Lik penjual mie lidi.

Uang saya tinggal 100 rupiah, sementara harga mie lidi per-kemasan 300 rupiah. Saya nego, pokoknya saya beli 100 rupiah, dikasih 1/3 bungkus pun ndak masalah. Yang penting hajat menandaskan mie lidi ke perut saya terpenuhi. Dan, anda tahu, kejadian seperti ini lumrah dan mudah didapatkan di mana saja.

Penjajah datang. Kita semua tahu, mereka sejatinya adalah pecundang sejati dalam bernegosiasi. Sebisa mungkin mereka menghindari tawar-menawar. Sekuat tenaga mereka mengindari nyang-nyangan. Pokoknya jangan pernah mencoba berhadapan dengan “ngeyelnya” masyarakat Nusantara.

Alasan ini, alasan kepecundangan dalam bernegosiasi ini yang kemudian tempo melahirkan rekayasa pasar tanpa tawar-menawar. Pasar sepi. Pasar kehilangan gaung dan riuhnya. Tak ada lagi kita menemukan tawar-menawar yang alot lagi sengit antara pedagang dan pembeli. Tak akan ada lagi kita menemukan seorang ibu yang setengah mampus menawar harga bawang merah agar turun 500 rupiah sampai urat lehernya membengkak sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Ringkasnya, pasar ilang kedunge.

Maka wahai, betapa mahabenar Nasida Ria dengan syair lagunya “Tahun 2000”. Bahwa manusia akan lebih karib dengan mesin.

Teman saya dari kampung datang ke Jakarta. Saya ajak ia belanja di kerfur. Saya bayar belanjaan. Keluar pintu toko dan ia memegang pundak saya sembari bertanya mrongos “iki pasar opo kok gak enek nyang-nyangane?”

“Iki bukan pasar. Iki toko…,” Saya menjawab.

“Bukan pasar? Kok jualan bawang, brambang, mrico, lengkuas, juga ciplukan?” Dia mendesak.

“Butuh kolokium, seminar dan KTT G-20 untuk menjawab pertanyaanmu. Makanya jadi orang jangan terlalu kritis. Nyusahin orang banyak,” Jawab saya ketus. []

Ilang Kedunge
Click to comment

Komentar

To Top