Cerpen

Keluar Tanpa Ga

Kau, lelaki yang duduk di sofa warna biru tua yang penuh debu. Tanganmu masih memegang secarik kertas. Matamu mengitari setiap pojok ruang tamu dan menemu sarang laba-laba rumahan. Sebentar dua bola matamu menatap layar televisi keluaran tahun sembilan puluhan berukuran 14 inchi yang tak menyala. Ada keinginan untuk kau menyalakan televisi itu, tapi urung kau lakukan. Televisi tak kau anggap mampu memberi semacam penawar untuk matamu yang panas—menahan cairan bening yang membentuk selaput di kedua bola matamu.

Pada heningnya ruang itu, raut wajahmu tak berbeda—seakan bersatu dengan ruangan yang berukuran lima kali tiga meter. Dua bola matamu masih akrab dengan panas, hatimu juga menahan sesak yang mendalam. Benda-benda yang ada di ruang itu seakan melayang dan menimpa dirimu dalam daya gravitasi yang sangat tinggi. Ingatan membawamu pada sebuah nukilan-nukilan hidupmu sendiri. Kau rasakan hatimu menahan rasa yang pedihnya bukan main. Kau sendiri sebenarnya tidak tahu persis di mana batas-batas antara kerja ingatan dan hati, karena kau sadari ada jarak yang tak tertempuh dan segala yang sumir di antara dua hal itu. Kerja dua hal itu akhirnya berlabuh pada sesuatu yang saat ini mulai pudar, beranjak samar dan mewujud dalam seberkas cahaya terang yang tak menemu sesuatu yang pasti.

“Ga,” gumam yang keluar dari bibirmu yang kering, pecah dan sedikit terkelupas. Bibir itu pun yang akhirnya membawamu pada rasa di mana duri-duri tajam menancap hatimu dan pisau-pisau yang dengan pasti menghunus tepat di jantungmu. Kau menatap pohon mangga yang ada di halaman rumahmu dari balik jendela dan tak ada hal lain yang bisa kau lakukan, kecuali membawa air yang meski kau tahan namun akhirnya menetes juga dari indera penglihatanmu.

Detak jam dinding mengiring pada hal-hal yang di masa lalu kau impikan. Membangun sebuah rumah, berbahagia dengan istri dan anakmu. Ingatan yang kau miliki terus berkelindan, hingga tiba pada sebuah jalan yang panjang, yang membawamu pada sebuah kerinduan yang tak tertahankan—kerinduan kepada Ga.

Kau telah lupa akan mimpi-mimpimu yang tadi beriring jam dinding. Pada mulanya semua terlihat baik-baik saja, sampai sekarang pun baik. Tapi ada kebaikan yang berbeda di situ, kebaikan yang pertama terlihat, namun kebaikan yang kedua tak lebih dari kesan. Semua karena jalan yang kau pilih dengan yakin. Kau putuskan untuk resign dari kantormu dan mantap memilih jalan yang bagimu baru, jalan menjadi penulis. Ya, semua bermula dengan baik. Istrimu mengiring dalam niatmu memilih jalan itu karena terbius oleh rayuan kata yang keluar dari mulutmu. Kau mencoba menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke media massa. Kau rasakan bukan hal mudah hingga akhirnya tulisanmu dimuat di media massa. Tak butuh waktu lama untuk hal itu. Tepat pada kau mencoba untuk kelima kalinya, kau akhirnya berhasil. Girangmu bukan kepalang dan semua kau yakini akan bertambah baik dan semakin mantap memilih jalan kepenulisan.

Entah bagaimana caranya, kau seperti tertimpa segala keberuntungan. Semua yang kau harapkan akhirnya kesampaian. Jalan yang telah kau pilih membawamu pada sebuah panggung yang tak secara sembarangan bisa dipijak setiap orang. Namamu meroket seiring dengan tulisanmu yang selalu hadir di setiap koran hari Minggu. Kau semakin membulatkan tekad dan terus menulis. Bukan hanya menulis saja, kau juga lebih akrab untuk makan atau acara di luar rumah ketika kau diundang di acara workshop atau seminar perihal dunia tulis menulis. Tak jarang pula acara semacam itu berbentuk sebagai undangan di luar kota.

Tanpa kau sadari, secara perlahan namun pasti dunia tulis menulis memberimu jarak akan rumah, akan anak dan istrimu. Bagimu, jarak itu hanya sebuah hal yang remeh-temeh dan tak ubahnya angin lalu. Sebentar kau mengesampingkan perihal cinta yang ada di rumah. Tapi kehidupan bak sebuah teka-teki, memberi misteri yang sukar terpecah, menjaring masa-masa yang sulit diterima oleh hati, kecuali penyesalan yang membayang di masa sekarang.

***

Sengaja kau sulut kretekmu. Asap putih melayang-layang di udara, ditiup angin yang berkesiur lembut hingga menyatu ditelan amplop putih yang masih ada di tanganmu. Asap itu juga yang membawa ingatanmu yang telah lalu tentang kebersamaan dengan Ga—putrimu yang baru berusia tujuh tahun membawa riang yang kau rasakan saat melihatnya bermain di bawah teduhnya pohon mangga. Sekarang hal itu hanya menjadi berkas yang menyisa dalam kepalamu. Ga—jarang keluar rumah untuk bermain. Pada umunya anak-anak ingin memenangkan sebuah permainan yang mereka lakukan. Tapi hal itu menjadi kemustahilan untuk Ga. Dia akan lebih akrab dengan sebuah kekalahan. Bahkan dia sudah kalah sebelum bermain. Itu semua bukan karena kesalahan yang dilakukan Ga, melainkan semua sebab bermuara dari dirimu. Kau membayang Ga lebih sering menangis ketika dikatakan bahwa Ga tak punya ayah, karena ayahnya jarang pulang ke rumah dan itu hal yang sulit kau elakan. Kenangan tentangmu dan Ga kau rasakan tidak lebih dari hal-hal yang tercekat. Ada jarak yang tidak bisa ditempuh ketika kau mencoba bekerja keras mengingat pada waktu kebersamaanmu dengan Ga. Masa lalu dan masa depan kau rasakan membangun tangga-tangga untuk menuju kecemasan. Ingatan tentang kebersamaanmu dengan Ga terbalik dengan rasa-rasa sesal yang membengkak dan menggerogoti ulu hatimu ketika untuk sekali lagi kau buka amplop itu dan membaca sebuah pertanyaan di antara sekian curahan hati anakmu. Pertanyaan itu sulit untuk tak membuatmu merasakan sesal yang dalam—Kapan Ayah Pulang?

Dua bulan sudah amplop itu tergeletak dan tidak kau buka, meski kau rasakan baru seminggu kau meninggalkan rumah. Kau putuskan untuk pulang ke rumah karena kau mulai rindu pada Ga. Tapi semua kerinduan hanya membentuk air matamu yang terus mengalir. Setelah duduk cukup lama, kau akhirnya berdiri melangkahkan kaki. Hatimu menguatkan niat untuk mengambil pisau dan menimbang menuju pohon mangga dan mengupas mangga itu. Kau ambil itu karena kau pikir jalan keluar. []

Keluar Tanpa Ga
Click to comment

Komentar

To Top