Celomet

Hijrah; Makna Dulu dan Sekarang

Akhir-akhir ini, Seiring berkembangnya diskursus sosial, ekonomi sampai  politik dengan latar belakang agama, muncul satu fenomena yang cukup menarik untuk dilihat dan dipahami secara mendalam, fenomena yang ngetrend dengan istilah “hijrah”.

Kata Hijrah semacam kosakata baru dalam Kamus  Bahasa Indonesia dan masyarakat umum yang tak jelas maknanya meski sering digunakan media sosial, terutama oleh AbeGe (aktifis baru gede) Islam dan generasi zaman now.  Banyak kita menemukan tagar, tagar beneran, tagar-tagaran seperti #ayohijrah, #hijrahyuk, #akuinginhijrah, #indahanyahijrah dan lain sebagainya. semua tagar-tagar berderet memenuhi laman explorer pengguna instagram dan platform sosmed lainya.

Fenomena hijrah tidak hanya sampai di situ saja. kondisi ini kian panas dingin di masyaralat karena beberapa publik figur artis, politisi ikut hijrah. Hijrah dalam definisi menggunakan jilbab, menggunakan pakaian yang syar’i, dan lain sebagainya  secara langsung maupun tidak langsung menjadi kampanye nyata tentang  hijrah  dengan pendulum yang lebih luas.

Kata Hijrah berasal dari Bahasa Arab yang memiliki beberapa arti. Secara bahasa Hijrah dapat berarti “pindah”, “menjauh” atau ”menghindar”. Sementara secara istilah hijrah berarti berpindah dari satu hal menuju hal lain dalam konotasi yang positif .

Istilah hijrah pertama kali digunakan pada zaman Rasullah. Kata ini digunakan untuk merekam peristiwa berpindahnya Nabi Muhammad SAW dan Sahabat Muhajirin dari Makkah ke Madinah karena embargo sosial kaum Qurays pada pada Umat Islam selama hidup di Makkah. Peristiwa hijrah ini diabadikan dalam Sirah Nabawiyah sebagai penanda mulainya hitungan tahun hijriyah. Artinya, kisah tersebut adalah tanda nyata bahwa hijrah bukanlah istilah baru dalam hazanah keilmuan dan literatur Islam.

Dalam sejarah Indonesia, Kata Hijrah juga pernah digunakan pasca proklamasi kemerdekaan. Pada tahun1947, Belanda melakukan Agresi Militer I sehingga diadakan Perjanjian Renville. Akibat dari itu, Pemerintah Indonesia memidahkan pasukan yang ada di Jawa Barat dan sebagaian Jawa Timur ke Jawa Tengah. Perpindahan pasukan jawa barat ini dikenal dengan Hijrah Siliwangi.

Jika merujuk pada kedua latar cerita dan kondisi di atas, kata “hijrah” memiliki substansi yang sangat positif. Fenomena hijrah dalam status sosial masyarakat Indonesia dianggap sebagai capaian yang luar biasa pada level tertentu. Kondisi di mana seseorang yang tadinya kurang memahami sesuatu lalu mendapatkan hidayah.

Bentuk hidayah tersebut misalnya keinginan yang lebih untuk mempelajari agama di majlis keilmuan agama tertentu, secara otodidak melalui melalu media informasi dan teknologi, melaksanakan sholat secara istiqomah,  membaca al-Quran bertarget, misalnya program “One Day One Juz” dan lain sebagainya.

Hal lain yang sering menjadi sorotan dan ini dianggap menjadi identitas utama seseorang telah melakukan hijrah meski mungkin ini yang sering menjadi salah paham dan salah dipahami tentang hijrah adalah perubahan dalam penampilan dalam hal pakaian yang digunakan. Jika Sebelumnya berpenampilan biasa atau cenderung terbuka pada badan baik laki-laki maupun perempuan menjadi lebih tertutup dengan embel-embel syar’i, sunnah dan argumen lain yang cenderung agama lebih semiotik dan identitas-identitas lainnya.

Kondisi ini menyebabkan Hijrah dimaknai usaha menjadi pribadi muslim dari yang tidak atau kurang baik menjadi lebih baik. Itulah sebabnya kenapa fenomena hijrah ini lebih banyak di asosiasikan kepada perubahan orang yang kurang atau tidak memiliki latarbelakang pendidikan agama yang cukup.

Penggunaan istilah “hijrah” semakin bergeser dari makna seharusnya, Makna Hijrah yang selama ini terjadi sejatinya mendekati istilah “taubat”.  Hari ini orang lebih nyaman dan merasa kekinian jika menggunakan istilah hijrah, misal “Alhamdulillah dia sudah hijrah”, “Eh kamu kapan hijrah? gak capek apa nakal terus?”. Kalimat-kalimat dengan diksi “hijrah” terdengar jauh lebih smooth dan adem dibandingakn kalimat “Alhamdulillah dia sudah taubat” atau “Eh kamu kapan taubat?” yang mungkin terkesan lebih judgmental.

Akhirnya, Sejatinya semua orang selalu ingin melakukan perubahan untuk yang lebih baik. Ada yang dengan cara revolosioner atau yang evololusi dan kemampuan pribadi masing-masing. Baik dalam kehidupan materi maupun psikologi. Semua orang ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya. Satu hal yang harus kita teladani dari hijrahnya Rasulloh adalah, Tujuan beliau meninggalkan Kota Makkah karena kuatnya ancaman musuh dan berdakwah untuk yang lebih besar. Satu hal lagi, beliau hijrah ke Madinah bukan untuk meninggalkan Makkah, tapi suatu saat kemudian beliau menaklukkan Makkah, kondisi yang dulu pernah ditinggalkan. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Hijrah; Makna Dulu dan Sekarang
Click to comment

Komentar

To Top