Cerpen

Sampah

Terik matahari menyilaukan netra, membuat orang-orang kerap menyipitkan mata. Panasnya seakan membakar kulit ari, tak ada yang ingin berlama-lama dibawah teriknya. Tapi tidak bagi mereka yang diberi kelebihan harta, bernaung didalam mobil mewah lengkap dengan pendingin yang tak biarkan kulit tuannya terjilat panas matahari siang.

Namun untuk Ujang seorang bocah laki-laki yang berumur sekitar 9 tahun, baginya itu adalah hal lumrah yang terpaksa harus dijalani setiap harinya.
Bagaimana bisa dia bernaung dibawah atap rumahnya sedang dia saja tak punya rumah. Dia tinggal dikolong jembatan dan orang tuanya yang sudah meninggal hanya mewariskan gerobak kayu untuk menyimpan barang rongsokan yang bisa dijualnya. Kadang dia dan adik kecilnya harus tidur dalam gerobak jika kolong jembatan yang biasa mereka tempati harus dibersihkan oleh para bapak-bapak berseragam rapi yang kadang dengan enaknya membuang rongsokan yang sudah terkumpul dan dibakar. Ah sudahlah, barangkali memang salah mereka yang hidup miskin tak punya harta.

Sore ini, Sri meringis. Lapar yang menyerang dari tadi pagi belum juga diusir dengan sekedar memakan sesuap nasi. Dia menarik baju Ujang, menampakkan wajah memelas meminta makan, matanya berbinar, ada air asin yang ingin keluar dari sudut matanya. Ujang prihatin dengan Sri, adik kecilnya itu belum makan sejak pagi tadi.
“Ade tunggu disini ya, kakak cari makan dulu. Kalo kamu ngantuk , tidur aja di dalem , nanti kalo kakak dah pulang kakak bangunin kamu. Oke.” kata Ujang sambil menunjuk gerobak yang sudah dialasi oleh kardus.
Sri mengangguk, ada senyum yang dipaksakan melengkung dibibir mungilnya. Gadis kecil usia empat tahun dengan rambut acak-acakan dan baju kumal itu benar-benar menghilangkan aura cantiknya. Lingkaran kelopak matanya yang hitam menggambarkan betapa sangat lelahnya dia. Saat-saat bermain yang penuh dengan kasih sayang dan segala fasilitas yang biasa anak-anak lain dapatkan tak berpihak padanya.
Sri menuruti kata-kata Ujang, dia masuk kedalam gerobak merebahkan tubuh kurusnya sambil menatap langit Jakarta yang sudah jarang nampak bintang berkelap-kelip.

Ujang meninggalkan Sri, berjalan menyusuri jalan tanpa alas kaki, setidaknya malam tak sebengis siang. Kakinya tak merasa panas jika berjalan diwaktu malam.
Kakinya terhenti di belakang sebuah restoran yang masih cukup ramai pengunjungnya. Dia duduk disebrang pinggir jalan . Menunggu restoran itu sepi dan tutup. Dia menelan air liurnya yang meleleh melihat lahapnya para pengunjung restoran yang makan begitu enaknya, ada beberapa yang berfoto ria dan memotret makanan sebelum dimakan.
Satu jam, dua jam berlalu, beberapa pekerja direstoran pun sudah ada yang pulang. Hingga waktunya dia beraksi, ada senyum bahagia saat seorang karyawan restoran membuang bungkusan hitam di tempat sampah belakang pintu. Secepat kilat dia berlari menghampiri bungkusan hitam itu. Namun bersamanya ada tiga ekor Kucing yang lebih dulu menghampiri bungkusan itu, mencakar-cakar hingga koyak dan berhamburan yang ada didalam bungkusan. Ujang berusaha merampasnya, namun Kucing-kucing kelaparan itu tidak ingin membaginya dengan Ujang, dicakarnya tangan Ujang hingga berdarah, perih terasa. namun Ujang berusaha mengusirnya. Memukul kucing itu dengan kaleng yang ada didekatnya. Kucing itu pun pergi, sambil menggigit beberapa potong tulang ayam dan ikan yang berhasil di ambilnya.
“Sana pergi, kalian cukup ambil tulangnya saja.” katanya sambil teriak mengusir kucing . Ujang begitu bahagia karena matanya menangkap ada potongan sisa steak yang masih besar.
“Yes, makan enak malam ini, Sri pasti senang.” katanya sendiri sambil memungut potongan steak itu yang telah bercampur dengan beberapa sampah lain dan tanah. Dibersihkannya pasir yang menempel di daging itu. Ada sisa daging ayam dan kepala ikan goreng yang juga dipungutnya . Air aqua botol yang masih ada setengah airnya pun tak lewat dia pungut dan di masukkan ke dalam plastik yang juga dipungutnya dari tempat sampah . Bau menyengat yang memuakkan tak begitu dia risaukan. Yang penting hari ini dia dan adiknya bisa makan. Ujang kembali menemui Sri yang sudah tertidur lelap. Nyamuk-nyamuk yang sedang asik menghisap darah di pipi tirusnya tak digubris. Mungkin dia terlalu lelah, hingga mampu mengalahkan rasa lapar dan gatal digigit nyamuk.

“De, bangun. Kakak dah bawa makanan.”
Sri menggeliat pelan, didapati wajah kakaknya yang tersenyum padanya.
Dia balas dengan senyum .
Sri bangun, keluar dari gerobak lalu duduk bersama kakaknya ditanah. Dibukanya makanan yang dibawa Ujang. Air mukanya senang, Benar kata Ujang.
Potongan Steak yang pertama kali di ambilnya. Mulut mungil itu langsung menggigit sisa steak yang dibawa Ujang, namun seketika dimuntahkan lagi keluar. Ujang kaget.
“Kenapa de? Ga enak ya?”
Sri menganguk, mengiyakan apa kata Ujang.
“Ya sudah, ade makan yang ini aja ya, ini biar kakak yang makan.”
Ujang mengambilkan sisa ayam goreng dan kepala ikan yang tak habis dimakan pemiliknya kepada Sri. Sri girang, jempolnya diangkat menandakan kalau makanan itu enak.
Ujang hanya makan sisa steak yang tak dimakan Sri, dirasanya asam.
“Yah basi de,Tapi ga apa-apalah, masih sedikit basinya belum parah. Hehehhehe.” kata ujang sambil menghabiskannya.
Sri ikut tertawa melihat Ujang tertawa.
Sri memeluk sang kakak, mencium pipi Ujang yang kotor.
Ujang membalasnya dengan mengusap kepala sang adik.

“Kakak janji, Suatu saat kakak akan kasih kamu makanan yang sesungguhnya maafin kakak ya de. Sekarang kita tidur,”

Lagi-lagi dia mengangguk, mengiyakan apa kata kakaknya yang kadang dia sendiri tak mengerti dan tidak mendengar apa yang kakaknya katakan. Dia tuli dan bisu sejak lahir. Dan dia selalu percaya apa yang kakaknya katakan dan isyaratkan. Baginya kakaknya adalah harta paling berharga didunia ini.

“sayang, suatu hari nanti hidup kita akan berubah, yakin dan percaya bahwa kita tak terus seperti ini,” Ujang mengusap kepala adiknya yang tertidur pulas sehabis makan sampah yang dibawanya.

*Atikah Gilbert, Penulis adalah mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta sekaligus ketua redaksi komunitas Karsa yang aktif dalam dunia kepenulisan dan sastra

Click to comment

Komentar

To Top