Celomet

Pemilu 2019 : Kampanye Apa Iklan?

Pemilihan Umum tinggal beberapa hari lagi. Kampanye-Kampanye terbuka telah berjalan. Di tengah sepinya kampanye Caleg dan Partai, Kampanye Capres-Cawapres adalah jawara tunggal di media nyata, dunia maya dan tentu berita. Calon Legislatif sepi peminat dan penikmat.

Peraturan KPU Nomor 33 Tahun 2018 adalah kegiatan peserta pemilu atau pihak yang ditunjuk oleh peserta pemilu untuk meyakinkan pemilih dengan cara menawarkan visi, misi, program dan citra diri peserta pemilu.

Menurut KBBI Online, Kampanye adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan lain sebagainya untuk mendapatkan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

Kampanye memiliki karakter dan jenis. Baik berdasarkan teori maupun suka-suka. Ada kampanye positif. Ada kampanye negatif, ada kampanye hitam dan lain sebagainya. Belum jenis kampanye berdasarkan kegiatannya, berdasarkan isinya dan bisa juga jenis kampanye berdasarkan suka-suka kontestannya.

Meski tak persis sama. Kampanye sesungguhnya mirip atau hampir sama dengan iklan. Bahkan, saat ini pun ada iklan kampanye. Jadi apa bedanya iklan dan kampanye, sesungguhnya mudah dan sulit untuk menjelaskannya.

Suhandang (2005) Mengemukakan iklan sebagai salah satu jenis teknik komunikasi massa dengan membayar ruangan atau waktu untuk menyiarkan informasi tentang barang dan jasa yang ditawarkan oleh si pemasang iklan.

Jika kita amati di berita TV, media cetak maupun elektronik yang beredar, Kampanye Pemilu 2019 ini sebagain besar menggunakan narasi negatif. Isi-isi kampanye lebih banyak menyebutkan masalah personal lawan. Dan cenderung sibuk menyerang lawan politik.

Kontenstan tidak menampilkan diri sebagai solusi masalah-masalah masyarakat pemilihnya untuk 5 tahun ke depan. Isi kampanye sebagian besar sibuk mencitrakan secara negatif lawan dibandingkan mencitrakan kemampunnya memperbaiki keadaan.

Meski tidak sangat spesifik, Iklan yang menawarkan produk dan jasa justru lebih terkesan penuh dengan nilai-nilai positif dengan standar tinggi dibandingkan kampanye. Rata-rata iklan produk dan jasa fokus pada keunggulannya dibandingkan produk atau jasa yang sejenis. Mulai dari diskon, kualitas dan pelayanannya.
Ini berbeda jauh dengan kampanye pada pemilu 2019. Kampanye 2 Kontestan di Pilpres, dan Ribuan caleg legislatif mulia dari nasional, provinsi dan kabupaten/kota tak pernah berhasil menjelaskan pada publik apa keunggulan, kelebihan dan perbedaan antara calon lain. Mereka hanya yang penting bikin stiker, pasang poster dan baliho sebagai modal untuk layak di pilih sebagai pejabat dan penguasa. Bahkan ada yang calon yang sengaja menyimpan programnya karena takut di sontek oleh kontestan lain.

Khusus untuk 2 kontestan Pilpres 2019 memang berbeda. Titik fokus utama. Publik, media dan semua sepertinya sangat fokus pada pilpres. Bahkan, para politisi utama, politisi dan mungkin juga caleg pun lebih banyak fokus pada pilpres dibandingkan memperjuangkan nasibnya sendiri.

Meski demikian, Para Kontestan seharusnya bisa lebih nyata dan terukur dalam membuat program. Boleh beda, boleh sama, boleh asal-asalan dan boleh suka-suka atau apapun penyebutannya. Yang penting satu, mereka tidak hanya sibuk membuat program kerja yang disampaikan kesana kemari. Mereka juga harus membuat program nyata bagi pemilihnya. Bukan program yang ngawang-ngawang tapi tak bisa di terawang soleh siapapun. Sesekali Caleg juga berani membuat iklan yang kongret dan jelas seperti iklan Tong Fang!!!.
Akhirnya, ritual pemilu 5 tahunan baik di tingkat nasional maupun provinsi dan kabupaten, sesungguhnya adalah usaha untuk mewujudkan Negara Indonesia lebih baik. Jika Pemilu tidak menaikkan level kita untuk menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang terus berjuang agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang terlanjur di sanjung dan di dewa-dewakan di percaturan politik dunia.

Semua kontestan layak untuk beriklan dengan menonjolkan kelebihan-kelebihannya dan semua calon berhak mengkampanyekan diri sebaik mungkin. Jualah kemampuan yang di punya dan kemungkinan yang akan kalian kerjakan. Jika tidak mampu, Maaf, Kita pemilik kekuasaan semutlak-mutlaknya. Jangan salahkan kita, Jika nanti, 17 April 2019 kami memilih libur dan menikmati indahnya bangun tidur siang.

Rahmat ElBas, Aktifis Muda NU Lampung. Penikmat puisi dan senja, tertarik pada isu-isu sosial dan agama.

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Pemilu 2019 : Kampanye Apa Iklan?
Click to comment

Komentar

To Top