Catatan Perut

Debat dan Humor

Orang boleh pintar sundul langit, namun selama masih mudah marah dan gampang tersinggung saat berdebat, kepintaran tak ada gunanya sama sekali.

Selera humor, kita tahu, berbanding lurus dengan selera untuk menertawakan kehidupan. Untuk menertawakan kehidupan, mula-mula yang perlu untuk ditertawai adalah diri sendiri. Jangan coba-coba untuk menertawakan apa-apa yang ada di luar diri selama kita masih terbata-bata dan plegak-pleguk dalam menetawakan diri sendiri.

Humor tentu saja memiliki corak, model, varian, dan juga kadar yang berbeda-beda: tergantung dosis dan konteksnya. Maksud saya begini, skala humor sangat bermacam-macam, mulai dari yang biasa saja sampai tingkat yang paling ekstrem.

Soal yang belakangan disebutkan ini–kadar humor yang ekstrem–, Pesantren adalah lumbungnya. Kita bisa menemukan forum gojlokan-garap-garapan, saling silang mengejek, menertawakan satu sama lain dengan kadar yang sering kali malah kelewat ekstrem. Kita menemukan gairah berhumor yang luar biasa. Orang-orang pesantren, barangkali lebih dari sekadar yang dikatakan Chaplin–mampu menyulap tragedi menjadi komedi, mampu menyihir yang serius menjadi komik.

Bahkan, di forum-forum yang formal sekalipun orang-orang pesantren tidak pernah habis batre, kasulitan sinyal dan kehilangan kecerdasan dalam menciptakan humor-humor segar. Sebagaimana yang dilakukan oleh Kiai Abdul Wahab Hasbullah kepada Kiai Abdul Jalil Kudus di tahun-tahun panas perdebatan soal DPR-GR.

Mbah Wahab–demikian Kiai pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras ini karib disapa–berseberangan pendapat dengan Kiai Abdul Jalil Kudus soal validitas DPR-GR dalam pandangan Islam. Keduanya berdebat sengit beradu rujukan. Sama-sama kuat dalam berargumen. Sama-sama logis dan meyakinkan. Sebuah perdebatan yang hanya bisa disaingi oleh sengitnya El-Classico dan PSSI vs Kemenpora, barangkali. Kesimpulannya? buntu. Masing-masing berkukuh pada pendapatnya sendiri. Sampai kemudian Mbah Wahab berseloroh dengan nada sinis “Kitab yang sampean gunakan kan cuma cetakan Kudus. Kalau kitab yang menunjang pendapat saya ini cetakan luar ngeri”

Keduanya saling berpandangan. Senyum mengembang. Terkekeh. Adem. Ayem. Guyub. Rukun. Bersih. Indah. Nyaman. (ini kok mirip slogan kota: Jombang Beriman)

Lahumal Fatihah…

Debat dan Humor
Click to comment

Komentar

To Top