Celomet

Tamparan pada Sains (Kita)

Forum Sains Sekitar Kita edisi yang ke-42 hasil produksi kolaborasi antara The Conservation dengan KBR mengangkat topik berupa “Pembelajaran Sains, Mengapa Begitu Dogmatis?” (theconservation.com, 21 Januari 2019). Dalam pembahasan tersebut menghadirkan narasumber kompeten yang diantaranya adalah Intan Suci Nurhati, peneliti ilkim dan kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Suharyo Sumowidagdo yang merupakan salah seorang fisikawan di LIPI.
Ada hal yang menyita perhatian dari apa yang disampaikan oleh fisikawan LIPI tersebut. Ia mengungkapkan akan kenyataan bahwa pengajaran sains di Indonesia yang berlangsung hingga saat ini masih begitu dogmatis. Itu menjadi kritik sekaligus tamparan keras bagi pranata kehidupan pendidikan yang ada. Alasannya, tidak lain adalah akibat jarang atau bahkan tidak pernah dijelaskan bagaimana terkait mengenai asal-usul konsep dasar ilmu pengetahuan. Baginya, anak didik tidak cukup ketika hanya mendengarkan penjelasan dari guru tentang rumus-rumus fisika, kimia atau bahkan matematika.
Jauh-jauh hari, tepatnya pada 31 Agustus 2016, seorang guru besar fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB), Mikrajudin Abdullah menulis opini yang diunggah melalui akun facebook pribadinya akan keresahan terhadap jalannya sains pada pendidikan formal. Salah satu penerima Habibie Award 2018 itu mengusulkan agar metode dalam pengajaran harus diupayakan adanya modernisasi. Penyesuaian dengan perkembangan zaman dan tak terlalu konservatif. Karena memang dalam praktiknya, anak didik sebatas diajarkan berbagai rumus maupun persamaan, namun lahir dampak berupa kekeringan akan makna fisisnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, berhembusnya periodisasi bernama Revolusi Industri 4.0 tidaklah asing bagi telinga. Tak terkecuali bagi sains, ia juga didorong untuk memberikan solusi maupun terobosan pada aspek perkembangan yang terjadi. Apalagi setelah wacana itu berkembang, kini kita kemudian dihadapkan pada konsep Society 5.0. Dalam opininya berjudul Menuju Society 5.0 (Harian Republika, 29 Januari 2019), Yandra Arkeman menjelaskan konsep Society 5.0 sebagaimana yang baru saja diluncurkan oleh negara Jepang. Hakikat dari Society 5.0 merupakan penggunaan teknologi digital maju hasil dari Revolusi Industri 4.0 pada segenap aspek masyarakat (society).
Profesor Teknologi Industri Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu juga menyinggung terkait mengenai urgensi akan inovasi digital kaum milenial. Ia memaparkan peran universitas yang sudah selaiknya menyusun kurikulum untuk melahirkan lulusan yang dapat mengisi kekosongan tenaga kerja baru pada era digital. Salah satu jalan untuk menempuh: membuka kajian keilmuan di setiap fakultas yang strategis menuju ke sana. Berbagai teknologi digital yang dimungkinkan lahir dari konsep Society 5.0 ini diantaranya: kecerdasan buatan, blockchain, robotika serta Internet of Things (IoT).
Sebagai negara yang menggaungkan sains, Indonesia punya tugas berat untuk menata dan memperbaiki sistem pengembangan sains yang ada. Baik berada di lingkup pemerintahan maupun non pemerintahan. Hal yang tak bisa dilepaskan tentu saja adalah peran pendidikan baik mulai tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Terkait dogmatisasi dalam pengajaran yang ada di sains sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Andi Hakim Nasution pernah melakukan kritik keras melalui tulisannya berjudul Ketekunan yang Langka (Bandung Raya, 2001).
Ia meresahkan ihwal budaya akademik yang berkembang pada banyak perguruan tinggi di Indonesia. Salah satunya adalah kurangnya akan iklim mahasiswa mengenai ketekunan dan kesetiaan dalam menjalankan proses di setiap lokus kajian keilmuan. Salah satu parameter yang disampaikannya adalah dengan melihat poster-poster yang ditempel pada setiap dinding kampus yang tidak menunjukkan akan gagasan-gagasan ilmiah yang diperbincangkan.
Sayang sekali, pengumuman yang memenuhi dinding kampus bukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan ilmu yang ditekuninya, melainkan mengenai siraman rohani, bedah buku tentang solidaritas Palestina dan berbagai diskusi mengenai berbagai kebobrokan yang terjadi di tanah air,” ungkap ia dalam salah satu paragraf yang ada di tulisan tersebut.
Kondisi tersebut bagi penulis, masih saja membudaya hingga sejauh ini. Tak terkecuali adalah di fakultas yang memiliki fokus kajian keilmuan sains. Sebut saja: Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Pertanian hingga Teknik. Parahnya, acapkali masing-masing fakultas itu juga berkembang klaim terhadap istilah, entah pesantren kampus dan lain sebagainya. Kuatnya berbagai kajian keagaamaan justru lebih mewarnai ketimbang diskusi maupun kajian yang bersandar pada lokus fakultatif maupun jurusan. Tak mengherankan ketika kemudian yang terjadi adalah kemandekan akan lahirnya gagasan-gagasan maupun terobosan yang menjanjikan.
Bukannya menyalahkan antara satu dengan lainnya, toh bukankah sebenarnya kampus memiliki kepentingan melahirkan kaum intelektual maupun akademisi yang nantinya berdampak pada berbagai sektor kehidupan di masyarakat? Apa guna ketika kampus hanya dijadikan sebagai sebuah lembaga untuk sebatas mencari gelar, tapi pada kenyataannya yang terjadi adalah keringnya ide maupun gagasan. Belum lagi—katakanlah saat terjun pada dunia nyata bernama realitas masyarakat.
Hal yang sudah seharusnya dijadikan kerangka maupun pakem dalam pengembangan sains tentu saja adalah menghadirkan kembali muatan sejarah dan filsafat. Yang mana dalam banyak kejadian dua hal tersebut sudah mulai tidak dijadikan perhatian dalam kurikulum. Sejarah tentu saja berkaitan mengenai asal-usul maupun perkembangan keilmuan yang ada. Ia melatih diri untuk menelusur perkembangan dan perubahan yang telah berlangsung, latar belakang hingga melakukan kontekstualisasi pada perkembangan zaman. Lebih lagi adalah menghindarkan diri pada wabah reduksionisme.
Sementara itu, filsafat sebagai ibu ilmu pengetahuan bekerja pada ranah melatih logika, penalaran hingga stimulus untuk berpikir kritis. Hal tersebut agar konstruksi pemikiran jelas dan punya nalar skeptis untuk terus mencari kebenaran melalui pengumpulan data dan fakta yang sejalan dengan metodologi yang digunakan. Terlebih lagi adalah dalam kerangka sains yang menjadi tantangan di dalamnya seperti diantaranya; pseudosains, takhayul hingga mistisme.
Mafhum, dalam salah satu karyanya berjudul The Demon – Haunted World : Sains Penerang Kegelapan (Kepustakan Populer Gramedia, 2018), Carl Sagan mewanti-wanti akan tantangan terbesar dalam penyiaran sains yaitu berupa penjelasan sejarah aktual dan berliku temuan-temuan akbar dalam sains beserta kesalahpahaman dan penolakan keras kepala untuk berganti haluan yang terkadang ditunjukkan para praktisinya. Seberapa siapkah sains kita menuju ke sana?

*Ketua PMII Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis Buku Bola Fisika

 

*Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, bukan bagian dari tanggungjawab redaksi omahaksoro(dot)com

Tamparan pada Sains (Kita)
Click to comment

Komentar

To Top