Celomet

Masalah Literasi Kita

Tiada hari tanpa membaca. Kalimat itu jelas tak asing, bahkan seolah telah menjadi kredo (kepercayaan atau keyakinan) yang menjejali berbagai ruang pencerahan di negeri kita. Sayangnya, bangsa kita memang memiliki kebebalan rasa yang sudah sedemikian parah. Beribu kredo, slogan, motto berderet, semua hanya menjadi pajangan.

Realitanya, budaya membaca masih saja dilupakan. Membaca -masih- menjadi beban berat untuk dilakukan oleh masyarakat, lebih khusus anak muda; para pelajar dan mahasiswa di negeri kita. Padahal tugas pokok bagi pelajar maupun mahasiswa adalah membaca, dan memperbanyak referensi guna mempertanggungjawabkan keilmuannya. Selain itu, generasi muda sebagai penerus bangsa sudah sepatutnya memiliki wawasan yang luas untuk kemajuan bangsa ke depan.

Jika dibandingkan dengan menonton, membaca menjadi prioritas nomor sekian untuk dilakukan. Bagi kebanyakan pelajar atau mahasiswa akan lebih memilih membeli tiket nonton film yang baru muncul dibandingkan dengan membeli buku yang baru diterbitkan. Tirta Rismahadi Wijaya (2012) menyebutkan bahwa generasi Indonesia sekarang lebih pas disebut dengan generasi visual. Padahal generasi visual adalah merupakan musuh utama budaya literal.

Selain itu, merebaknya hoaks dan disinformasi yang menjamur diberbagai ruang kehidupan kita saat ini, adalah akibat dari masih banyaknya masyarakat kita yang malas membaca. Malas melakukan konfirmasi dengan menggali informasi dari berbagai judul buku, portal berita, atau referensi lainnya. Hal ini tidak hanya terjadi di masyarakat yang berjenjang pendidikan rendah, tetapi juga berpendidikan tinggi sekalipun.

Menguras otak

Di sisi lain, budaya membaca dan menulis di Indonesia juga masih dianggap sebagai kegiatan yang menguras otak, membuat pusing, dan menjenuhkan. Kegiatan membaca tampaknya memang belum bisa menjadi kebutuhan pokok bagi bangsa kita seperti halnya makan dan minum.

Padahal, membaca adalah kebutuhan primer untuk membantu kita dalam berpikir yang logis dan analitis. Edward Gibbon mengungkapkan, kegunaan membaca ialah membantu kita untuk berpikir rasional. Sementara dalam Islam, budaya membaca juga sudah diajarkan pada zaman Rasulullah SAW, bahkan wahyu pertama yang diturunkan kepada beliau adalah perintah untuk ber-iqra’ (baca).

Membaca adalah sebuah kebutuhan. Dengan membaca seseorang dapat memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan, terangsang kreativitasnya, mendorong timbulnya keinginan untuk dapat berpikir kritis dan sistematis, memperluas, dan memperkaya wawasan serta membentuk kepribadian yang unggul dan kompetitif.

John locke bahkan mengatakan, bahwa membaca dapat melengkapi pikiran hanya dengan bahan-bahan pengetahuan. Berpikir menjadikan apa yang kita baca menjadi milik kita. Manusia yang tidak membaca tentu tidak akan mempunyai pengetahuan yang penuh dan pikiran yang luas. Seseorang mempunyai pengetahuan yang penuh dan pikiran yang luas, adalah akibat dari manusia tersebut mau membaca. Mustahil jika orang tersebut mengingkari adanya proses membaca.

Kemalasan adalah musuh kita bersama

Selain menguras otak dan menjenuhkan, membaca dan menulis dianggap sebagai hal yang membosankan. Bahkan tidak sedikit orang mengganggap bahwa menulis dan membaca adalah kegiatan yang sangat menyulitkan.

Maka tidak heran jika banyak sekali pelajar, mahasiswa atau bahkan dosen/pengajar menghindari kegiatan yang berbau literal. Membaca dan menulis semakin tertinggal, tidak populer dikalangan pelajar dan mahasiswa. Pelajar, mahasiswa sudah tidak lagi bersahabat dengan buku. Akibatnya banyak pelajar, mahasiswa bahkan dosen melakukan plagiasi, baik gagasan maupun tulisan.

Hal ini adalah kebobrokan terbesar dalam dunia literasi kita. Orang malas membaca buku apalagi menulis. Sementara perdebatan (di dunia nyata maupun maya) seringkali dilakukan. Kita kehilangan ruang-ruang diskusi yang menyajikan teori dan data. Kita kehilangan ruang-ruang untuk belajar.

Padahal, menurut Tilaar (1999) proses membaca adalah proses memberikan arti kepada dunia (Give meaning to the world). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat yang gemar membaca (Reading society) akan melahirkan masyarakat yang belajar (Learning Society).

Kemalasan membaca dan minimnya interested pada dunia literasi adalah musuh kita bersama yang sudah sepatutnya kita lawan. Berbagai upaya perlu dilakukan secara bersama-sama oleh banyak pihak untuk mencapai learning society. Pemerintah dan komunitas-komunitas literasi harus bekerja ekstra keras dalam mengampanyekan gerakan literasi. Tidak hanya pada segi fasilitas material; buku, perpustakaan, tetapi juga pada kesadaran (awareness) tentang manfaat dan pentingnya membaca.

*Penulis adalah pengajar di Univesitas Nahdlatul Ulama Indonesia

 

Masalah Literasi Kita
Click to comment

Komentar

To Top