Celomet

Islam dan Cermin Untuk Hari Ini (Bag. 1)

Islam merupakan agama yang mendapat tempat di masyarakat dunia sejak awal perjuangan Nabi Muhammad SAW dan Assabiqun al-awwalun, berawal dari komunitas kecil yang disebut Toynbee sebagai “a tiny creative minority“, yang membuat perubahan secara radikal dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Arab sekitar lima belas abad yang lalu, hingga sekarang masih merupakan agama yang tetap lestari. Khususnya di masyarakat kita, Indonesia. Dinamika yang terjadi pada persaingan dalam peradaban juga sudah menjadi wacana umum dalam sejarah peradaban manusia, atau sejarah peradaban Islam itu sendiri. Sebetulnya Islam menjadi bagian kelanjutan dari agama-agama monotheis terdahulu. Hal ini bisa kita lihat dalam Al-Qur’an yang secara komprehensif membahas sejarah kenabian dan kerasulan, serta perjuangan para penyebar kebenaran. Agaknya kitab suci ini yang dalam isinya melukiskan banyak sekali sejarah, adalah bentuk dari bagaimana merekonstruksi sejarah yang akan berpengaruh pada kualitas intelektual umatnya. Artinya, ada misi intelektual agar tidak terjadi distorsi dalam perbincangan sejarah tadi. Karena sejarah merupakan hal yang berpengaruh pada “karakter” manusia, si empunya sejarah.

Yuval Noah Harari misalnya, dalam Sapiens mengatakan, bahwa tulang Sapiens (manusia purba paling jenius) diketemukan di Eropa. Wacana ini akan menghasilkan sebuah dasar asumsi, bahwa orang Eropa memiliki nenek moyang yang lebih baik. Secara negatif, dapat bermakna pula, selain Eropa bukan berasal dari manusia unggulan. Misalnya, di Indonesia ditemukan di dua tempat kerangka manusia purba yang dinamakan Homo Floroensis (di Flores), dan Homo Soloensis (di Solo). Akhirnya pemahaman seperti ini membawa pada laku “inferior” dan menjadi celah atas legitimasi bahwa barat lebih superior, dan karena lebih superior berhak menjajah bangsa lain, karena inferiornya dilihat dari asal usul nenek moyangnya. Di sanalah manfaat praktis dari rekonstruksi sejarah manusia yang ada dalam Al-Qur’an walaupun kita tetap harus membuka diri pada pengetahuan, meskipun berasal dari mereka yang di luar kalangan Islam. Tetapi wacana itu tidak bisa kita terima begitu saja, melainkan harus ada sikap kritis dan mau menelaah kembali Ilmu Pengetahuan yang dihasilkan bangsa barat.

Dari sinilah mulai terlihat kemunduran kita. Hari ini, pemuda-pemuda kita saja apakah mereka memiliki kebiasaan membaca buku? Sehingga isi pikirannya hanya berasal dari Sosial media, yang kebenarannya tidak dapat dipastikan, atau kebenarannya tidak bisa diverifikasi. Kalau keadaannya terus menerus begini, apakah kita masih bisa berkata dengan pongah bahwa “Islam adalah agama Peradaban” satu hal yang jauh terjadi apabila berkaca dari hari ini. Ini hanya baru dilihat dari kualitas intelektualnya. Belum dari sisi-sisi yang lain, yang keadaannya juga amatlah menyedihkan. Oleh karenanya tulisan ini merupakan kritik atas (untuk) diri saya sendiri (self criticism) selaku penganutnya, yang kadang “gembar-gembor” ke muka umum bahwa Islam adalah salah satu pemilik peradaban, tapi jauh dari kenyataan hari ini.

Sebagai sebuah Agama yang memiliki proyeksi besar terhadap kemajuan umat manusia, Islam dibawa Nabi Muhammad SAW berawal dari sikap kepasrahan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Sikap pasrah ini, kadang, diartikan secara negatif (dalam arti yang tidak membawa ke arah praktis), oleh para pemeluknya. Fatalisme dalam Islam menurut Harun Nasution dalam Teologi Islam-nya, merupakan karakter dari bangsa Arab yang secara geografis tinggal di padang pasir yang tandus dan keras, mereka, hanya bisa menerima secara pasif apa yang sudah ada. Ditambah lagi, faham teologi yang beraliran Jabariyah mendapat tempat dalam diskursus teologi kita tentang kehendak manusia yang “terpaksa”. Meskipun pada akhirnya timbul faham yang moderat, yang membawa ajaran bahwa manusia harus “mengkasab” apa yang sudah diatur Tuhan. Maksudnya bahwa kita tidak terpaksa menerima (harus aktif) dan juga tidak melampaui batas (bebas tanpa pengaturan Tuhan).

Kepasrahan kepada Tuhan sebetulnya merupakan dasar Islam dapat menjadi peluang jika diartikan secara positif. Karena apabila kita pasrah kepada Tuhan, berarti kepada yang selain Tuhan, tidak boleh pasrah. Faham Tasawuf misalnya dalam sejarah Bangsa Indonesia, yang mengutamakan kepasrahan kepada Tuhan yang Maha Esa, tidak serta merta pasrah dalam menjalani kehidupan. Hal ini dibuktikan dari sejarah Perlawanan penjajah dari kalangan penganut Tarekat/Sufisme untuk ikut serta dalam perebutan tempat hidup dan membebaskan bangsa kita dari Kolonialisme. Para Wali-Songo dan Thariqat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang bernama Syeh Abdul Karim Banten, Syekh Muhammad Arsyad Al Bandjari, adalah pejuang yang aktif memberikan perlawanan pada penjajah dari kalangan Tarekat. Bukan hanya di Indonesia, perlawanan kaum Tarekat terjadi, misalnya yang terjadi di Sudan, pelopornya Muhammad Ahmad di Libia, Muhammad Ali As-Sanusi di Somalia, Muhammad Abdullah Hasan dan di Irak dipimpin oleh Khalid Al-Baghdadi. Bahkan di Rusia terjadi perlawanan dari kalangan Tarekat Nasyabandi yang dipimpin oleh Bahal Di Vaishi. (Api Sejarah Jilid I, Hal 331)

Kemunduran selain dari ketidaktepatan dalam memahami ajaran tentang kepasrahan adalah juga tentang kondisi kejiwaan umatnya. Seperti dikatakan Al-Amir Syakib Arsalan dalam tulisannya yang berjudul “Limadza Taakhhara al-muslimun, Wa Limadza Taqaddama Goiruhum” sebuah surat balasan dari pertanyaan seorang Syekh di Indonesia, Syekh Muhammad Basyuni Imran, yang bertanya melalui surat kepadanya. Akhirnya ditulislah buku ini.

Dalam buku ini dijelakan bahwa umat Islam kehilangan Tradisi dari para pendahulunya. Tradisi ini yang memang menjadi karakter dari Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya yang pertama. Karakter itu kemudian berlanjut pada kondisi kejiwaan para pendahulunya. Misalnya, tentang keberanian dan pengorbanan yang amat timpang seperti yang terjadi hari ini, bahwa kita telah kehilangan itu. Tetapi perjuangan hari ini memang perlu dikontekstualkan dengan kenyataan. Apabila dulu Nabi SAW berperang dengan pedang, hari ini kita harus berperang dengan Ilmu. Karena pedang hari ini bukanlah simbol dari kegagahan individu. Kualitas otak yang melahirkan karya melalui Ilmu pengetahuanlah yang berguna untuk memunculkan kembali keberanian umatnya. Sederhana saja, berapa banyak uang yang kita pakai untuk membeli buku dan berapa banyak uang yang dipakai untuk membeli kuota Internet? Ini kejadian terdekat yang kadang kita anggap remeh, tapi efeknya besar. Al Amir Syakib Arsalan menuliskan (perlu data yang valid dan terkini):

“….Bangsa Jerman telah mengorbankan dua juta jiwa, bangsa Prancis telah mengorbankan satu juta empat ratus jiwa, bangsa Inggris enam ratus ribu jiwa, bangsa Italia, empat ratus enam puluh ribu jiwa, bangsa Rusia, tidak dapat dihitung jumlah banyaknya…. Pengorbanan Harta-benda, bangsa Inggris mengeluarkan tujuh milyard poundsterling, …. Prancis dua Milyard Poundsterling, ….Jerman tiga Milyar Poundsterling, … Italia Lima Ratus Juta Poundsterling, dan Bangsa Rusia hingga menimbulkan kelaparan besar penduduknya….”

Tentu keterangan yang diberikan, tidak harus sebagai mana adanya mesti dilakukan. Tinggal kita melakukan refleksi yang tepat bagaimana bentuk pengorbanan untuk hari ini. Selain itu Al-Amir Syakib Arsalan juga menyoal tentang kejumudan, bahwa hari ini stagnasi dari umat Islam yang membawa kepada sebuah sikap yang lebih berbahaya daripada kebodohan merupakan salah satu sebab kemundurannya. Cerminan ini merupakan anti-tesis dari kemajuan peradaban Islam terdahulu, di mana Islam menjadi transmisi dan merupakan transformator dari kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno. Sekarang kita masih dapat melihat, dan mempelajari karya-karya para Ilmuwan Muslim. Bahkan, dalam sebuah cerita dikabarkan, Isaac Newton pernah mempelajari karya Ibnu Rusyd filosuf Muslim yang kenamaan itu. Selain Ibnu Rusyd sangat banyak Ilmuwan Muslim yang menjadi rujukan Ilmu Pengetahuan modern. Ibnu Sina dan Ar Razi dalam bidang kedokteran, Al-Farabi dalam bidang Musik, dan Ibnu Khaldun yang konon karya besarnya Muqaddimah, menjadi rujukan dari terbentuknya organisasi internasional Perserikatan Bangsa-bangsa (masih perlu dicari). Sebagaimana diungkapkan oleh Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam ketika masuk pada masa Abbasiyah kemudian melakukan ekspansi sampai ke Spanyol, Islam maju bukan hanya dari segi Politik. Kemajuan Islam secara politik, adalah merupakan keluaran dari kemajuannya terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pada saat itu, di Spanyol menyaingi pusat peradaban yang ada di Baghdad; orang Eropa Kristen, belajar di Perguruan Tinggi Islam dan Islam (muslim) menjadi guru-gurunya. (Bersambung).

 

Fajar Chaidir Qurrota A’yun,

Aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat STAI HAS Cikarang Cabang Kabupaten Bekasi

*Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, bukan bagian dari tanggungjawab redaksi omahaksoro(dot)com

Islam dan Cermin Untuk Hari Ini (Bag. 1)
Click to comment

Komentar

To Top