Celomet

Islam dan Cermin Untuk Hari Ini (Bag. 2)

Baru-baru ini muncul kelompok di Indonesia yang juga dari kalangan Islam, menekankan pada “perjuangan politik” dalam arti, politik-sentris. Padahal apabila ditelusuri politik hanyalah merupakan hasil yang menimbul dari kebudayaan yang maju. Seperti misalnya, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai sebuah hasil karya cipta manusia. Sedangkan kemajuan peradaban diungkapkan oleh Koentjaraningrat lebih merupakan kemajuan mekanis seperti politik dan ekonomi. Tidak tepat kalau Islam selalu mengejar determinisme Politik itu.
Hal lain yang perlu dicatat dari kemunduran kita adalah kegiatan ekonominya. Di masa Nabi Muhammad dan Assabiqun al Awwalun kegiatan ekonomi dijalankan dengan berdagang. Tetapi, muslim hari ini, mulai meninggalkan kegiatan berdagang, dan pergi meninggalkan pasar, yang dianggap “sarang setan”, padahal kemajuan Islam berawal dari pasar dan aktivitas berdagang. Para Remaja yang lulus dari sekolah saja contoh yang aktual, mereka lebih ingin bekerja di bawah kuasa para pemodal, bukan berarti salah, tetapi kalau semuanya menuju ke sana, maka, lumpuhlah kemajuan ekonomi kita, karena tidak ada lagi yang mau berdagang.
Dari potensi alam yang khas Indonesia, juga mulai ditinggalkan, antara lain menjadi petani dan menjadi nelayan. Dari Luas wilayah Indonesia, kita dapat menyimpulkan bahwa kita adalah bangsa maritim. Apabila kita melihat ke dalam kisah ekspansi Islam, sebenrnya adalah upaya bagaimana bisa menguasai Lautan. Juga dari Majapahit, yang armada lautnya terkenal tangguh hingga akhirnya mampu menguasai hampir seluruh Nusantara. Saat laut mulai ditinggalkan, di sanalah kemudian bangsa barat sadar, dan mulai menguasai laut. Kemudian terjadilah kolonialisasi. Sepertinya ada yang perlu dikaji ulang dari pendidikan formal kita, yang justru membuat sepi apa yang menjadi peluang yang telah ada di depan mata. Di tengah masyarakat industri. Nurcholish Majid dalam Islam Kemodernan dan Keindonesiaan mengungkapkan definisi Industrialisasi sebagai proses perkembangan teknologi oleh penggunaan Ilmu Pengetahuan terapan ditandai dengan ekspansi produksi besar-besaran dengan menggunakan tenaga permesinan untuk tujuan pasar yang luas bagi barang-barang produsen maupun konsumen melalui angkatan kerja yang terspesialisasikan dengan pembagian kerja, seluruhnya disertai oleh urbanisasi yang meningkat (dikutip dari Henry Fratt Fairchild, Dictionary of Sociology and Related Science, 1970)
Ke depan mungkin akan terjadi pula mekanisasi dalam bidang pertanian dan kelautan sebagai wujud kesadaran tempat bangsa kita. Ini merupakan tugas pendidikan bagaimana melakukan evaluasi atas sistim pendidikan formal dengan mempertimbangkan apa yang ada dan dekat potensi alam dengan masyarakat yang sekolah. Ketika kita tidak mampu membagi ruang dan keahlian, dan hanya keahlian yang satu saja. Dapat menimbulkan dampak ketatnya persaingan yang tidak seimbang, karena satu jalan diserb oleh banyak manusia.
Dari apa yang ada di atas, sementara, kita bisa memberikan Asumsi untuk melalukan perubahan di kemudian hari. Perubahan itu meliputi:
Pertama, perubahan intelektual dan mental, di tengah arus industrialisasi, peningkatan intelektual dan mental dapat menjadi senjata dan tameng untuk tetap bisa survive. Kejumudan dan ketertutupan akan mempelajari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan hanya berkutat pada persoalan agama yang furu’ dapat berdampak ketertinggalan kita. Budaya intelektual dan membangun mentalitas dapat dilakukan dari hal-hal terkecil, misalnya dengan membiasakan diri membaca buku setiap hari, menulis, dan lain sebagainya. Kedua, mengejar ketertinggalan dari sisi ekonomi, misalnya pada bagaimana melihat kembali ruangkegiatan perdagangan dengan masuk secara aktif ke pasar, sampai ke kegiatan eknomi Makro. Dalam konteks keindonesiaan, kita juga harus mulai mengintegrasikan bagaimana caranya agar anak-anak tidak lagi malu bertani dan Nelayan, misalnya dengan menciptakan mesin yang efektif untuk mencari Ikan dan menanam padi agar dapat lebih produktif. Selain itu pemerintah harus mampu melihat kepada rantai ekonomi yang nyata dalam kegiatan ekonomi nelayan, yang miris. Nelayan menjadi profesi yang ditinggalkan mungkin karena rantai ekonominya justru tidak memihaknya. Mereka mencari ikan, tapi mereka yang paling mendapat kecil keuntungannya. Efek dari itu secara sedikit demi sedikit akan menjadikan Muslim mendapat tempat dalam ruang politik. Dan berkemungkinan membangun kembali apa yang hilang dari Tradisi nenek-moyangnya.
Wallahu A’lam
Penulis mungkin saja salah dalam kutipan, dan tafsiran. Ini murni kekurangan penulis dan karena dalam keadaan masih belajar. Mohon pembaca maklum.

 

Fajar Chaidir Qurrota A’yun,
Aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat STAI HAS Cikarang Cabang Kabupaten Bekasi

*Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, bukan bagian dari tanggungjawab redaksi omahaksoro(dot)com

Islam dan Cermin Untuk Hari Ini (Bag. 2)
Click to comment

Komentar

To Top