Cahaya Mata Sang Pewaris

Mei 28, 2024

Resensi oleh: Dwi Putri

Buku Cahaya Mata Sang Pewaris merupakan kumpulan dari beberapa kisah cerita realita yang di alami sendiri oleh generasi kedua dan ketiga korban dan penyintas tragedi kemanusiaan tahun 1965/1966. Banyak yang kurang saya ketahui sebenarnya tentang sejarah kejadian G30S ini. Tapi pertemuan saya dengan Putu Oka Sukanta membuka mata saya untuk mengejar tentang suatu pelurusan sejarah yang mungkin bisa saja di bengkokkan oleh pihak yang berkepentingan dalam sejarah bangsa Indonesia.

Buku ini adalah kisah inspiratif dari mereka yang di cap sebagai keluarga yang beraliran “kiri”. Dampak psikis dari diskirimasi yang dilakukan oleh pemerintah pada masa orde baru masih terasa hingga kini. Dimana rasa trauma yang berkepanjangan, menjadi pribadi yang tidak percaya diri, dan selalu di liputi rasa khawatir jika suatu saat peristiwa akan terjadi lagi masih di rasakan oleh keturunan eks tapol, yang di ekspresikan dalam bentuk tulisan melalui buku Cahaya Mata Sang Pewaris.

Dogma yang diberikan pada keluarga yang di tuduh sebagai PKI sangat membekas dalam segenap bangsa Indonesia. Bagaimana pemerintah mencap mereka dengan sedemikian mengerikan, menjijikkan, atau layak dibunuh, didiskriminasi, dan semacamnya. Jendral Soeharto yang paling awal menuduh bahwa PKI adalah dalang dari G30S, walaupun fakta sejarahnya penjemputan paksa para jendral adalah tanggal 01 Oktober 1965. Tanpa periksa dan penyelidikan yang memadai, Soeharta menyebut bahwa PKI adalah dalang dari gerakan ini hanya karena Kolonel Untung yang mengaku sebagai pimpinan Dewan Revolusi rival Dewan Jendral memiliki kedekatan pribadi dengan tokoh-tokoh utama dari Partai Komunis itu sendiri. Hasilnya adalah orang yang dituduh Komunis harus dibantai dan dibersihkan sampai ke akar-akarnya.

Kisah yang paling menyentuh menurut saya adalah kisah dari keluarga I Wayan Willyana yang berjudul Tragedi 65 Menitipkan Senyap kepada Masa Kecilku. Di sini sangat terlihat sekali bagaimana psikis seorang ibu dari I Wayan yang trauma akan derita yang ia alami. Derita yang di alami generasi kedua ataupun ketiga dari korban tragedi 65/66 bahkan lebih berat daripada mantan tapol/ orangtua mereka sendiri. Karena eks tapol hanya mengalami penderitaan ya hanya di ruang lingkup penjara saja. Sedangkan keturunan mereka harus menanggung diskriminasi ataupun bullying dari ruang lingkup yang lebih luas, yaitu masyarakat.

Dalam artikel Wikipedia menyebutkan bahwa “Pada 2015, Presiden Jokowi Widodo dikabarkan berencana memberikan ucapan minta maaf terhadap PKI atas terjadinya pembantaian 1965. Kabar ini lantas ditentang oleh FPI dan lembaga Kristen. Jokowi kemudian menegaskan bahwa ia tidak berpikiran untuk meminta maaf kepada PKI melainkan untuk korban pelanggaran HAM”.

Peristiwa pembantaian 65/66 adalah peristiwa pelanggaran HAM berat. Ada yang mengatakan bahwa sekitar setengah juta nyawa melayang dan sekitar 1 juta orang masuk dalam sel tanpa di adili. Pelanggaran HAM pada zaman orde baru adalah pelanggaran HAM terberat kedua di dunia setelah pembantaian yang dilakukan Adolf Hittler terhadap kaum Yahudi. Banyak orang yang kurang peduli bahkan sampai melupakan peristiwa ini. seperti saya misalnya, saya cenderung kurang peduli dengan fakta sejarah. Yang ada di pikiran saya ya PKI itu adalah pemberontak dan ingin menguasai Indonesia sepenuhnya. Karena dogma yang diberikan pada pemerintah orde sudah demikian mengakar dan agak sulit untuk di hilangkan. Begitu pun dengan teman-teman saya yang belum tahu pasti tentang tragedy kemanusiaan, ketika saya tanya apa yang ada di dalam pikiran mereka ketika saya menyebutkan kata “PKI” ? jawabannya sama, mereka adalah pemberontak.

Sudah saatnya kita Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar untuk menyadari betapa pentingnya kita untuk mengetahui sejarah Indonesia. Bukan karena perbedaan pandangan dan ideologi lantas kita harus terpecah belah. Justru dengan perbedaan itulah yang menjadi PR penting bagi pemerintah untuk membangun negara yang beradab dan memanusiakan manusia. Berapa banyak jiwa yang dimusuhi hanya karena di tuduh berhaluan kiri/terkena garis. Kita bukan membicarakan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi lebih dari itu, kita membicarakan tentang pelurusan sejarah yang sempat terbelok oleh penguasa orde baru.