Filsuf

Jun 16, 2024

“Mohon semuanya diam. Jangan membuat forum dalam forum. Izinkan teman saya menjawab satu persatu pertanyaan yang diajukan,” suara datang dari seorang mahasiswa yang berdiri tepat di sudut kelas dekat papan tulis.

“Maaf, Pak. Kawan-kawan tidak bisa diam,” mahasiswa itu menatap sungkan pada saya.

“Tidak apa-apa. Keramaian jauh lebih baik dibandingkan kesepian,” saya timpali sekenanya sembari menikmati keadaan.

Kaget dengan jawaban yang saya berikan, raut muka mahasiswa itu mendadak pucat pasi. Lebih tepatnya barangkali bukan pucat pasi, tapi ekspresi wajah bingung. Sulit dicari padanan katanya, namun ekspresi kebingungan itu bisa digambarkan: bayangkan raut muka yang akan bersin tapi tidak jadi. Ya. Seperti itu kira-kira.

“Lanjutkan,” suara saya memecah keramaian.

“Tapi, Pak. Pertanyaan terlalu banyak. Lagian waktu diskusi tinggal sebentar”

“Tampung semua pertanyaan”

“Lalu?”

“Kalian jawab”

Mahasiswa itu mulai kesal dengan jawaban-jawaban yang saya berikan. Ia diam sejenak dan membisikkan sesuatu ke telinga seorang kawan di sampingnya. Naga-naganya ia punya sebuah rencana. Semacam balas dendam kecil-kecilan.

“Oke, kawan-kawan. Fokus plis. Semua pertanyaan kami terima. Tanyalah sesuka hati kalian. Semua pertanyaan akan kami tampung,” kali ini suaranya nyaring dan tegas penuh percaya diri.

Nyaris seisi kelas mengacungkan tangan. Seingat saya hanya tiga orang yang tidak mengacungkan tangan: dua orang mahasiswa dan satu lagi adalah saya.

Saya menikmati keadaan, entah dengan para mahasiswa.

Pelajaran filsafat pagi itu memang benar-benar riuh. Temanya barangkali yang menarik: ontologi sepatu. Mahasiswa berdebat soal apa itu sepatu. Ia diciptakan untuk apa? Untuk melindungi kaki? Benarkah? Lalu kalau sepatu dikodratkan menjadi pelindung kaki, apa pula guna kaos kaki?

“Guna kaos kaki itu supaya kaki kita tidak lecet,” suara mahasiswi berkerudung hijau stabilo berhasil menarik perhatian kelas.

“Jadi kaos kaki itu melindungi kita?”

“Iya”

“Kalau sepatu?”

Setempo kelas tetiba menjadi hening. Sunyi. Senyap. Wingit.

“Tidak mungkin kita berlindung pada sesuatu yang justru memberi ancaman bagi kita,” seorang mahasiswa ngotot.

Kelas gaduh. Sangat gaduh. Dan tiba-tiba, Mahasiswa pemimpin diskusi angkat suara. “Menurut Franz Beckenbauer, seorang filsuf dari Jerman, puncak tertinggi adalah ketidak jelasan. Semakin kita tidak jelas, maka hakikatnya kita semakin berada pada keluhuran. Sama seperti sepatu yang secara ontologis ambivalen itu: apakah dia melindungi atau justru mengancam kaki.”

Gerak bibir yang lincah dipadu dengan ayunan tangan yang meyakinkan membuat isi kelas terkesiap. Nyaris semuanya memagut-magutkan kepala tanda bersepaham dengan argumen itu.

“Mas, apakah benar filsuf yang kamu kutip dan sitasi barusan pernah menjadi atlet sepak bola?” Saya menjejalkan pertanyaan kepada mahasiswa itu.

“Lho bapak suka bola juga?”

“Saya suka balet, juga sepak bola dan karambol,” jawab saya ketus.

Seisi kelas bergemuruh. Semua mahasiswa merasa tertipu. Belakangan saya tahu berdasarkan info anggota kelas bahwa sang Mahasiswa ini kerap mengutip perkataan aneh-aneh dari tokoh yang aneh-aneh juga.

“Kapan hari, dia ngutip pendapat seorang filsuf. Katanya hidup di era post-modern dari Perancis. Pas kita cek dan cari-cari, nama filsuf itu tidak berhasil kami temukan, Pak,” salah seorang mahasiswi berkacamata tebal menjelaskan panjang lebar.

“Memangnya siapa namanya?” Saya ulurkan pertanyaan.

“Eric Cantona, Pak”

Perut saya mulas. Saya benar-benar terhibur dengan kelas pagi itu. Sebuah teknik kebohongan akademik yang nyaris sempurna.


Penulis: Fariz Alnizar