Melukis Cinta dengan Nasi Kuning

Jun 13, 2024

Senja hendak tertidur pulas kala itu
Bukan tuk dipinjam apalagi disimpan
Karna hampir setengah jiwaku,
Sudah menyerupai senja tiruan.
Hanya ada bulan yang bersetia mengejar matahari
Dan matahari berlari mengejar bulan,
Dengan atau tanpa dikelilingi waktu
Mereka satu dan utuh.
Semesta belum berniat mempertemukan
Tak ada yang bisa mengintervensi.
Kenyataannya, bulan dan matahari selalu bermesraan
Menggantung dikaki-kaki langit.
Tanpa sungkan,
Ia berhasil menarik perhatian
Angin dan ombak
Semata-mata adalah kegaduhan.

Sementara,
Gaduh tak lekas dikembalikan oleh nasi kuning.
Berbagai rupa pasang kekasih,
Khawatir dengan mainan dikedua tangannya.
Sendok ditangan kanan,
Dan garpu ditangan kiri.
Trotoar dan gerobak dorong itulah kediamannya.

Pasang pertama adalah;
Suami istri penjual nasi kuning
Berangsur-angsur keduanya melayani,
Silih berganti
Tiada henti
Cintanya mengalir dengan hati-hati.

Pasang kedua adalah;
Mereka yang disebut pendekatan
Bahasa akrabnya sering disapa gebetan.
Tak banyak pesanan,
Hanya ada sepiring nasi kuning,
Dengan kelipatan kerupuk menumpuk.
Aku tak berani menduga,
Mungkin saja kerupuk yang melebihi ruang
Cukup menggambarkan cinta mereka dimulai.

Pasang ketiga adalah;
Sepasang kekasih tanpa suara.
Mereka tak bisu,
Hanya saja mulutnya bungkam
Akibat hasrat hati yang tercengkram.
Atau biasa disebut bertengkar.
Kesalahan atau penyesalan didominasi lelakinya
Yang hendak memesan lima bungkus nasi
Disertai karet merah
Namun tak banyak kerupuk dipintanya.
Lantaran wanitanya tak kunjung turun
Dari motor yang diparkirnya dipinggir trotoar.
Namun sesekali wanitanya menoleh ke spion kusam milik lelakinya
Khawatir wajah cemberutnya mengalahi karet merah yang merona.

Pasang ke empat adalah;
Aku,
Yang bermimpi menjadi senja
Meskipun tiruan.
Sepasang kursi kosong yang bermalasan
Dengannya aku bersanding.
Tak banyak yang kuperhatikan
Sesekali aku tergoda dengan warna kuning
Pada nasi dipiringku yang mirip dengan senja.
Segera kusudahi pesananku,
Khawatir tiba-tiba nasi kuningku merengek
Ingin diserupai seperti senja.

Aku tak ingin membuatnya kecewa
Kukayuh sepeda motorku dengan tarikan amat pelan
Agar nasi kuning tak mendengar kepergianku.
Setibanya menyapa ruang mimpi
Aku mulai bermain kata dan bahasa.
Namun, aku tak mengenali banyak bahasa
Aku tersadar,
Bahwa bahasa yang paling penting itu adalah; Cinta.
Dan tentu cinta tak mengenal bahasa.

Penulis : Robiatul Adawiyah/Wiwi.