Mere Matkadevi

Mei 23, 2024

Resensi oleh: Dwi Niar Damayanti

Don’t judge a book by its cover, pepatah ini sering keluar dalam buku-buku yang saya baca, atau dalam kisah-kisah heroik dengan tokoh pahlawan yang tidak begitu tampan, sering tak terduga malah. Benar sih, tapi terkadang sangat sulit untuk tidak langsung menilai segala sesuatu dari luarnya, karena hal inilah yang pertama kali terjangkau oleh mata kita. Sama halnya dengan buku, saya termasuk orang yang mudah terpancing untuk membaca buku setelah melihat covernya. Nah, buku setebal 232 halaman ini memenuhi criteria digestable hanya dengan melihat sampulnya (menurut saya).

Sayangnya tulisan 123 karakter lainnya dibawah judul luput dari perhatian saya karena mengira hanya hiasan tapi ternyata punya arti besar. Setelah membukanya, alih-alih melihat daftar isi, saya justru dihadapkan pada deretan nama tokoh yang disusun alfabetis, 124 nama tokoh, hmm agaknya ada kesalahan disini tak mungkin buku sekecil ini menampung kisah sebanyak itu. Ada sedikit kecewa karena hasil gelap mata ini, tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur, toh akhirnya harus dimakan juga bukan?

Saya pun melanjutkan membaca, dan wow halaman demi halaman habis terlahap dengan nikmatnya, rasa-rasanya seperti makan bubur rasa gado-gado ditambah permen nano-nano tanpa minum, ramai sekali dan penuh. Karakternya sangat beragam mulai dari anak-anak usia empat tahun, hingga seseorang yang berusia delapan puluhan tahun, dari tukang martabak hingga . Tak hanya manusia, bahkan juga ada karakter anjing, seperti dalam Blacky Blak.

124 cerita super pendek ini sukses membuat saya merasa miris, kagum, tercengang sekaligus penuh senyum, kisah-kisahnya sederhana dan tanpa disadari sering terjadi disekitar kita. Seakan menyadarkan bahwa semua orang punya dramanya masing-masing.

Tengok kisah Fira Putri Indriyani yang bangga dengan bapaknya, seorang superhero dengan seragam putih tidak hitam seperti batman, punya teman banyak mirip Avenger. Ternyata superhero kalau berantem rame-rame dan serius banget menghalangi datangnya Lady Gaga, nah yang terbaru malah ramai di 212. Adapula Arika Dondedieu yang percaya neneknya setengah nabi hanya karena mendengar petuahnya. Lalu kisah nama yang menjadi judul cover juga tak kalah menarik, bagaimana Mere Matkadevi mewawancarai 3 orang perempuan tentang alasan mereka menyayangi ibunya dan juga alasan mereka menyayangi anaknya. Dan tiga orang ini seperti cerminan kita semua, begitu banyak alasan kita ~sebagai anak~ lontarkan untuk menjawab kenapa sayang ibu, ramai-ramai pamer kedekatan dengan posting foto bareng ibu di hari ibu (satu diantara 364 hari) dengan caption seindah dan sepanjang mungkin tapi bagi ibu sendiri tidak pernah ada alasan kenapa ia sayang anaknya, karena cinta yang tulus tak perlu alasan apalagi postingan di media sosial. Lha wong mereka juga belum tentu punya.

Bahagia yang sederhana ditunjukkan oleh Cahya Purnama yang menganggap pemadaman bergilir sebagai kebahagiaan bergilir, saat dimana keluarganya saling berbagi cerita dan melupakan gadgetnya masing-masing. Gak melulu soal mind, kisah fiction juga ada seperti Dewi Cantik yang baru keluar dari persembunyiannya langsung diserang karena ternyata dunia telah dikuasai orang jelek dan orang cantik menjadi budak. Menyadarkan bahwa segala perbedaan itu perlu , agar kita tidak cepat bosan dengan dunia ini.

Keunikan buku ini tidak berakhir disusunan nama tokohnya saja. Tapi juga caranya menarasikan dengan menyebutkan umur para tokoh setelah namanya. Tanpa perlu penjelasan yang panjang dan berbelit pembaca seakan diajak membaca slice of life yg berwarna-warni dari tokoh-tokoh tersebut. Rasanya seperti duduk diam di keramaian dan membaca kisah orang-orang yang lalu lalang. Sst, bahkan penulis juga menjadi salah satu tokoh di buku ini lho.

oya ada satu quote favorit saya dari buku ini

Kadang manusia bisa jadi dewasa untuk masalah orang lain, tapi tidak untuk masalah sendiri, maka dari itu kita perlu teman untuk mendengarkan


Penulis : Tulus Ciptadi Akib
Penerbit : Kompas Gramedia
Tahun : 2013