Pagi Masih Buta

Jun 24, 2024

Pagi masih buta, mentari murung tak menguning, tirai masih tertutup rapi dan bagian penting dari pagi adalah keindahan wajahmu.

Pagi masih buta, aku pun tak dapat melihatnya, ramai ilalang bersua memanggil namamu, dan bagian penting dari pagi adalah menikmati suara merdumu.

Pagi masih buta, engkau pun tak sadar telah ditungguinnya, taman di depan rumahmu berkeringat deras, sederas rindu yang tak bertepi, dan bagian penting dari pagi adalah dapat melihatmu bersamaan dengan pagi dan mentari.

Pagi masih buta, tak ada kopi mau pun roti apalagi teh, sedangkan aku masin mengigatmu.

Pagi masih buta, tirai itu pun tak jua terbuka, mentari sudah diujung jari, sedang engkau pun belum terlihat sama sekali.

Pagi masih buta, aku pun masih menunggui mu, bersama dengan rindu, kenangan, kegelisahan. waktu pasti kutemu.

Pagi masih buta, kapan kah engkau tampakkan sekujur rinduku, pagi masih bersama kita dan lainnya, pagi masih menunggumu.

Pagi masih buta, semakin ramai teriakan, semakin ramai tetesan, semakin ramai percikan, semakin deras rinai membanjiri kenangan.

Pagi masih buta, sontrak kata semakin lantang kuteriakan, pagi masih gelisah apa yang sedang kau rasakan.

Pagi masih buta dan ia pun tak nampak sama sekali. rindu, kenangan, gelisah bersama menjadi sepi, mereka menjadi pikiran tak terarahkan, menjadi tetesan rinai tak terhentikan.

Pagi masih buta, coba lihatlah tirai itu dengan jelas, ia seperti tak bertuan lagi, berdebu, kusam, tak seperti biasannya bersih, wangin, selalu terbuka di pagi hari.

Pagi masih buta, ia pun berkata bahwa yang kau tunggui telah tiada dan tinai itu sudah tak bertuan.

Pagi masih buta, sedih pun berduka lara, betapa tidak? biar lah tirai itu bersanding bersama kenangannya, dan aku pun akan buta sepanjang pagi.

Penulis: Bayu Radix