Sejahtera

Jul 12, 2024

Beberapa waktu lalu, seorang kawan lama, seorang aktivis sosial, bercerita bahwa problem mendasar program bantuan langsung tunai dan jenis jaring pengaman sosial lainnya yang digalakkan paling tidak setelah munculnya pagebluk Covid-19 adalah soal silang sengkarut kevalidan data.

Data penduduk miskin—atau Pemerintah menyebutnya dengan istilah keluarga pra-sejahtera atau keluarga harapan dan serangkaian istilah eufemisme lainnya—tidak kunjung valid.

Di sebuah kampung di pojokan Jawa Timur ia mendapati bahwa banyak warga yang mustinya laik mendapatkan sejumlah bantuan, namun justru mereka hanya bisa menjadi penonton saat tetangganya yang justru lebih mapan secara ekonomi berbondong-bondong mengambil bantuan kepada pamong desa setempat.

Ini memang persoalan serius. Saya kurang mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Di kampung halaman saya juga demikian. Warga yang secara ekonomi laik mendapat bantuan, justru mereka hanya bisa berpangku tangan. Tak ada kekuatan, meski beberapa kawan sudah mencoba untuk mengadvokasi, namun ya begitulah.

Kawan lain bercerita bahwa ia punya tetangga, tiba-tiba “seolah kaya” mendadak setelah mendapat bantuan langsung tunai yang dirapel 5-6 bulan sekali turun. Di rumahnya ada sembako lengkap, termasuk minyak goreng yang waktu itu langkanya naudzubillah.

Lalu sebetulnya apa ukuran kemiskinan? Saya tidak mengerti itung-itungan ekonomi, tapi saya punya keyakinan bahwa jika kesejahteraan itu diukur melalui produk nasional bruto atau GNP, rasanya tangan Negara tidak akan pernah menjangkau ubun-ubun dan sanubari orang miskin.

Saya jadi teringat Pak Daoed Jusuf, bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978-1983 itu. Pak Daoed terkenang perdebatannya dengan Bung Hatta soal visi pembangunan ekonomi nasional.

Bung Hatta, sebagaimana dituturkan oleh Pak Daoed di Harian Kompas, 27 Juni 2012 pernah mengutip ilmuwan sosial Perancis Charles Fourier: “kami mau membangun satu dunia yang di dalamnya semua orang hidup bahagia.”

Kata Pak Daoed, entri “bahagia” sayangnya tidak pernah ada di dalam kamus ekonomi. Yang ada adalah entri walfare yang berarti sejahtera yang diukur pakai GNP di atas. Lalu apa ukuran bahagia?

Kemarin subsidi untuk BBM dicabut. Harga BBM bergeser naik. Harga bahan pokok biasanya juga pasti akan naik. Jangan tanya kebahagiaan dalam kondisi seperti ini.

Sayang, Bung Hatta dan Pak Daoed telah tiada. Lalu kepada siapa tanyaan itu kita alamatkan? Bu Mega? Coba bantu jawab.

Untungnya Manchaster United semalam menang melawan anak-anak gudang peluruh dari kota sebelah. Senin ini saya merasa senang, nyaris bahagia.

Selamat beraktivitas.


Penulis: Fariz Alnizar