Talbis, Hipokrisi, Penyakit Kita

Jun 06, 2024

Pengarang : Emha Ainun Nadji
Judul : Gelandangan Di Kampung Sendiri
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Cetakan IV, 2016
Tebal : 292 Halaman

Jum’at tanggal 10 Maret kemarin Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) diundang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membedah buku “Gelandangan di Kampung Sendiri”. Buku Cak Nun dipilih, karena merupakan salah satu buku yang dilombakan penulisan resensinya oleh Pegawai KPK. Juga, barangkali, KPK memang butuh ditemani oleh Cak Nun, karena beliau itu adalah bolo-nya semua orang. (hal 28).

Dari Caknun.com disebutkan, bahwa menurut Cak Nun, buku “Gelandangan Di Kampung Sendiri” sebenarnya menceritakan kehidupannya sendiri. Terutama pada medio akhir 80-an. Menurut beliau, situasi Indonesia dan dunia saat itu sudah sangat busuk. Ternyata, hari ini justru kondisinya lebih busuk lagi.

Peristiwa talbis misalnya, atau yang saat ini kita kenal dengan fenomena pencitraan, terjadi dimana-mana.. Peristiwa Talbis pertama kali dilakukan oleh Iblis yang memakai “baju” Malaikat untuk menipu Nabi Adam agar melanggar aturan Allah, yaitu mendekati pohon terlarang. Dan, cara semacam itu juga yang sekarang dilakukan oleh para koruptor negeri ini. Dari luar bak malaikat penolong, namun tanpa kita ketahui mereka merampok uang kita besar-besaran.

Setelah tahu telah dirampok, biasanya yang kita tanyakan sejak awal: berapa besaran uang yang telah dirampok? Kalau misalnya yang dirampok sedikit, kita akan maklum. Sementara kalau yang dirampok banyak, kita akan mencak-mencak. Agaknya hal itu juga yang mendasari salah satu pegawai KPK bertanya: orang mencuri itu masih wajar, tetapi jika sudah pada tahap korupsi hingga miliaran bahkan puluhan miliar, itu merupakan fenomena yang sangat tidak masuk akal. Ibarat, sebesar-besarnya perut manusia, apakah mampu menampung uang yang ia korupsi itu?

Hey, tunggu dulu. Mencuri itu wajar? Berarti, perbedaan koruptor dengan maling hanya terletak dari segi nominal uang yang dicurinya saja? Kalau memang benar seperti itu, sebelum menjawab pertanyaan, kita perlu membenahi cara berpikir terlebih dahulu.

Cara berpikir kita demikian-yang menganggap mencuri sebuah kewajaran-mengacu pada semacam fanatisme materialis, bahwa koruptor dikutuk karena mencuri uang yang terlalu banyak. Bukan berpedoman pada nilai moral, bahwa korupsi itu tidak baik.

Rumus berpikir yang demikian bisa tiba pada kecenderungan yang lebih luas: “Korupsi itu dilarang kecuali yang menerima saya sendiri, atau setidaknya saudara saya, atau sahabat saya yang kemudian membaginya dengan saya….” Tentu saja kita tidak pernah menyatakannya, baik di dalam hati, apalagi kepada orang lain. Sebab, sesama kita sudah ada keterpahaman bersama. Itulah psikologi hipokrit (kemunafikan) kita semua. (hal 96).

Pola perilaku mental kolektif demikian, merupakan penyakit kita semua. Penyakit itu maujud dalam kehidupan sehari-hari. Baik di sekolahan, organisasi, tempat kerja. Atau saat mencari pekerjaan, membatalkan dan memenangkan perkara, unggul dalam tender, atau apa saja. (hal 97).

Jadi, korupsi tak hanya “menyangkut kasus perut” semata, tetapi juga berkaitan dengan wilayah kesehatan kehidupan manusia. Sayangnya dokter di negeri ini tak tahu menahu soal itu. Ilmu kedokteran hanya mengetahui penyakit secara umum saja, tidak sampai menyelam dalam menyoal sebab-musabab penyakit itu bisa ada.

Dari sini, kita membutuhkan pemecahan masalahnya lewat ilmu agama dan ilmu sosial. (hal 163). Kalau koruptor diibaratkan orang sakit, mungkin ia hanya “medium” kritik Allah atas kehidupan kita. Terkadang kesembuhannya bisa terkait dengan sejarah kerohanian dan psikologis orang tua, kakek-nenek, tetangga, genealogi. Sebab, kehidupan kita saat ini sudah “dimulai” ketika orang tua kita pacaran. Oleh sifat pacarannya, oleh sejarah masing-masing bapak ibu kita. Dan, oleh segala sesuatu yang kompleks pada masa silam. (hal 164).

Artinya, kita hanyalah efek dari kompleksitas keadaan jauh sebelum kita “dirancang” untuk lahir. Kalau saat ini kita sedang mengalami penyakit yang luar biasa parahnya, maka….

“Mbok ya jangan lantas segala sesuatu dipandang serba buruk dan pesimistis begitu. Tuhan menitipkan cairan di sekitar biji nangka untuk mengatasi getah buah itu.” Sahut Pak Mataki dalam buku Gelandangan Di Kampung Sendiri.

Penulis: Zakaria