Tangguh

Jun 13, 2024

Kata siapa etos kerja satu orang Korea sama dengan etos kerja sebelas orang Indonesia. Itu pasti kesimpulan gegabah lagi tergesa-gesa.

Bangsa kita sering menjadi korban atas ukuran-ukuran yang sesungguhnya tidak cocok untuk kita. Ukuran, regulasi, batasan, dan apapun namanya tampaknya sengaja dibuat oleh "mereka" untuk menanamkan rasa minder dan tidak percaya diri pada "kita".

Tahun 1900 ada survei yang bilang bahwa tingkat buta huruf masyarakat Nusantara adalah 98%. Kita lalu menerimanya bagitu saja. Kita merasa memang kita ini bodoh tanpa pernah sama sekali sempat berpikir dalam survei tersebut buta huruf apa yang dimaksud? Asal tahu saja, sejak zaman bahuela nenek moyang kita sudah karib dengan aksara: Sansekerta, Jawa, dan tentu saja Hijaiyah. Tercatat tahun segitu sudah banyak karya sastra berupa sinom dan macapat. Lebih dari itu banyak nenek dan kakek buyut kita yang tercatat bukan saja fasih membaca Quran namun juga hapal di luar batok kepala. Masak begitu dibilang buta huruf? Kan berengsek sekali.

Sepak bola juga sama. Usia produktif dan keemasan manusia Indonesia itu antara 12-20 tahun. Lihat, di segala turnamen antara U-12 sampai U-20 permainan bola manusia Indonesia susah ditandingi bahkan oleh Korea, dan negara-negara Eropa juga Amerika Latin. Jadi ukuran yang dibuat FIFA itu ukuran manusia Eropa, Amerika, dan Afrika, bukan manusia Indonesia. Kalau berani tanding timnas senior Inggris, Brazil, Venezuela, Togo, Pantai Gading, dan Trinidad and Tobago silakan coba lawan U-20 nya Indonesia. Sebab U-20 itu usia "senior" bagi Masyakarat kita. Usia di atas 20 tahun itu usia veteran dan bukan lagi waktunya main-main bagi bangsa Indonesia. Bola adalah urusan permainan, jadi cukup sampai usia 20 tahun saja, di atas itu manusia Indonesia harus serius bekerja. Di atas usia 20 manusia Indonesia harus berjibaku secara serius untuk bertahan hidup, bayar cicilan, kredit ini itu dan segudang urusan lain yang lebih penting ketimbang hanya sekadar main sepak bola.

Nah, ada juga yang bilang orang Indonesia itu lemah. Karl Gunnar Myrdal pernah bilang bahwa Indonesia adalah soft state (bangsa lembek), negara halaman belakang atau back yard. Kepada peneliti yang gegabah dan tidak hati-hati itu sebaiknya kita sodorkan saja gambar di bawah ini. Biar gambar ini yang berbicara, bahwa setinggi apapun rintangan, kami siap untuk bukan saja melangkahi namun juga menggagahinya!

Bravo manusia Endonesa, perempuan, dan juga terutama ibu-ibunya!


Penulis: Fariz Alnizar