Catatan Perut

Membuka Kembali Aktivitas Pesantren di Masa Pandemi?

Omah Aksoro – Akhirnya, sekitar 3 hari lalu kembali bepergian ke Jakarta setelah PSBB di berlakukan sejak 10 April 2020. Penyebabnya karena dipanggil seorang kyai dari Jawa Timur. Diajak diskusi dan diberikan beberapa bahan bacaan. Pokok perkaranya masih soal Covid-19. Spesifiknya, menyangkut kehidupan pesantren yang terdampak pandemi. Kira-kira, pertanyaan kuncinya begini, “Ada berapa banyak pesantren di Indonesia? Berapa jumlah pengajarnya? Berapa jumlah santrinya? Bagaimana ‘nasib’ mereka jika ‘kebijakan seperti PSBB’ berlangsung lama?

Ba’da shubuh saya pamit pulang sambil berjanji akan menyelesaikan narasi terkait solusi dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Namun apa hendak dikata, otak masih ingin rileks setelah berbuka. Nonton film hingga lewat tengah malam otak masih juga belum bisa diajak berpikir. Kebiasaan saya, dalam situasi demikian mesti senggama terlebih dahulu dengan istri. Resep ini cukup jitu pada saat itu.

Lanjut. Apakah mungkin santri bisa kembali ke pesantren di awal tahun ajaran baru pada bulan Juli nanti? Jawabannya mungkin. Tidak perlu menunggu kurva melandai karena ini pun kita tidak tahu kapan terjadinya. Dasarnya apa? Belum bisa dipastikan kapan wabah berakhir, belum bisa dipastikan kapan tersedia anti virusnya, dan belum bisa dipastikan kapan ditemukan obatnya. Mau sampai kapan? Setahun, dua tahun, tiga tahun, atau lebih? Yang pasti Covid-19 sangat berbahaya bagi kelompok rentan (memiliki penyakit penyerta) dan usia tertentu. Covid-19 juga bisa dikendalikan dan manusia memiliki senjata yang sangat mematikan bagi virus ini: kekuatan imun tubuh.

Saya coba browsing data kematian pasien positif virus corona. Perlu diketahui, secara umum tiap negara berbeda pada urutan persentase dan jumlah penyakit penyerta namun tidak terlalu berbeda pada sisi usia. Kesamaan umumnya, rasio yang sembuh jauh lebih besar dari pada yang meninggal.

Dari data khusus Indonesia per 28 April 2020 bisa digambarkan bahwa kondisi penyakit penyerta pasien (preexisting conditions) yang meninggal yakni: hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit ginjal, paru obstruktif kronis, gangguan nafas lain, kanker, asma, gangguan imun, dan penyakit hati. Adapun dari sisi usia, sebanyak hampir 61 persen, berusia 50-69 tahun. Lalu diikuti oleh kelompok usia 30-49 tahun dan 70 tahun ke atas. Sisa kecilnya, kelompok usia di paling muda.

Berdasar pengetahuan saya yang sederhana, umumnya santri berusia belasan tahun dan pesantren biasanya berada dalam ‘lingkungan tertutup’. Mungkin saja di usia mereka (baca: santri) ada di antaranya yang memiliki penyakit penyerta. Ini bisa dieliminasi dengan tidak mengijinkannya sementara waktu belajar di pesantren hingga pandemi berakhir atau diijinkan dengan pertimbangan tenaga medis dan perlakuan khusus. Oleh karenanya, aktivitas pesantren bisa kembali dipulihkan. Caranya dengan beradaptasi atau yang sekarang lazim disebut dengan istilah ‘new normal’. Menjalankan kehidupan normal seperti sebelum pandemi dengan memperhatikan protokol kesehatan covid-19.

Saya susun empat tahapan. Pertama, prasarana yang mesti disediakan pesantren. Misalnya, kebutuhan kamar isolasi, pembagian ruang kelas, ketersediaan tenaga medis dan ahli gizi, penyediaan disinfektan, penyediaan sabun dan wastafel di depan asrama, masjid, hingga kelas, dan lain sebagainya. Kedua, persiapan yang mesti dilakukan saat santri berangkat dari rumah menuju pesantren, misalnya mulai dari cek kesehatan, perilaku selama di perjalanan, hingga kedatangan. Ketiga, proses penerimaan santri saat tiba di pesantren. Keempat, pada saat santri menjalani proses kehidupan di dalam lingkungan pesantren dengan kebiasaan-kebiasaan baru bagi kyai/ustadz dan santri. Saya mencoba membuat keempat bagian ini hingga level aturan yang sangat teknis.

Saya akui, saya bukanlah saintis kesehatan, oleh karenanya draft yang saya susun masih dikaji secara mendalam oleh orang yang memahami dan menjadi praktisi kesehatan. Tulisan ini juga tidak mewakili keseluruhan draft yang saya susun. Hanya, mudah-mudahan saja bisa terlaksana, bukan?

Dwi Winarno. 17/05/2020

Tinggalkan Balasan