Catatan Perut

Takbir

Omah Aksoro – Di warung kopi yang bangunannya darurat itu, saya bertanya pada kawan ngopi. “Menurutmu, kata apa yang paling sering keluar dari bibir manusia hari-hari ini?”

“Takbir,” dia menjawab mantap tanpa syak wasangka sama sekali.

“Di mana kata itu sering diucapkan?”

“Muacem-macem. Di medsos, di dunia nyata, di jalanan, di telepon, di semua tempat, termasuk di mesjid juga ding”

“Tepat ndak pemakainnya menurut sampean?”

“Tepat lah Mas. Kita hidup harus banyak-banyak Takbir. Sampean kayak ndak ngerti saja, dari dulu kan sastrawan-sastrawan kita gemar sekali mengajari bertakbir, Mas”

“Lho iya ta? Kok aku ndak ngerti ya?”

“Wah ketinggalan banget sampean iki. Sudah baca buku kumpulan Puisinya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani yang berjudul Tiga Menguak TAKBIR?”

“Belom”

“Wah, sampean kampungan, Mas. Gitu kok bilang seneng sastra. Mlbadus sampean”

“hehehehe”

“Sastrawan besar kita juga ada yang namanya menggunakan unsur takbir”

“Siapa????”

“Sutan TAKBIR Alisyahbana”

Saya bengong dan setengah mampus berusaha menahan gringgingen agar tidak keblabasen menjadi gejala stroke dan terancam mati muda gegara jawaban itu~

Tinggalkan Balasan