Puisi

Gumam Kemanusiaan di Dalam Pesakitan

Omah Aksoro, Ketika udara menjadi dikuasai racun dalam kehidupan Masuk ke kehidupan bangsaku,  Ke dalam setiap raga,  Lalu melumpuhkan kemanusiaan.  Racun yang bernyanyi-nyanyi sambil menari,  Mengusik telinga Izrail, seperti berkata:”Lanjutkan kerjamu, lanjutkan kerjamu!”  Di dalam pesta, mereka memakan seluruh manusia.  Ya, seluruh manusia! Mereka tidak melihat kehormatan, jabatan, profesi, bahkan tabib mereka tumbangkan. Hei, kau …

Continue Reading
Puisi

Suara dari Bawah Tanah

Omah Aksoro, Sampai kapan keindahan ini bertahan Industrialisasi dan bisnis properti menjamur Sungai-sungai kini tercampuri limbah beracun Rakyat di pinggiran terjerat uang rente Pemuda pribumi susah mencari kerja Magnet industrialisasi terus menggelora Masyarakat urban menjamur dan so berkuasa Para Ibu di desa memilih jadi TKW Di negeri orang mereka di perkosa, dianiyaya bahkan dipancung Sementara …

Continue Reading
Puisi

Sahabat Ideologi

Omah Aksoro, Didalam nafas perjuangan Tersimpan harta yang paling mewah Bukan kilauan emas Bukan pula gemerlip berlian Tetapi…… Sahabat Kini perjuanganku tak sendiri lagi Kini gerakanku tak hampa lagi Ideologimu adalah ideologiku Pancasila dan Ahlussunah wal jama’ah Wahai sahabatku………. Bersatulah dalam satu jiwa Bersatulah dalam satu gerakan Bersatulah dalam asa Biarlah ideology menjadi pengikat persahabatan …

Continue Reading
Puisi

Rindu

Omah Aksoro, Jangan pernah menyalahkan dirimu saat rindu melada Rindu itu kita yang menciptakan Waktu lah yang telah membelenggu  Dan ruang tanpa bisa dikompromi Tak ada penawar selain bertemu  Berdiamlah sejenak  Biarkan aku yang mengatakan bahwa dirimu sedang rindu. Ketika bertemu setidaknya bahagia untuk sementara Lalu…. Biarkan saja rindu itu bersemayam dalam diri kita. Bandung, …

Continue Reading
Puisi

Ada dan Tiada

Omah Aksoro, Dari ketiadaanmu, aku menjadi adaDari aku ada, engkau telah tiadaSejatinya, aku adalah kamu. Nama yang senantiasa menjadi harapanRindu yang hendak berdesakanDan tangis yang kian menggenangDoaku terus bersemayam. Sejak dokter memvonis ketiadaanmuNiscaya, Tuhan menghidupkanmu kembaliDitubuh yang baru. Demikian dunia telah dilahapAkhirat sudah kau junjung.Tuhan Maha Asyik,Belum sempat dunia selesai dibekaliAkhirat sudah tiba kau tawari. …

Continue Reading
Puisi

Jakarta Darurat

Omah Aksoro, Baru saja kakiku menginjakkan di aspal padat Tapi apa yg aku lihat.. Banyak kendaraan berjejer dengan rapat Bahkan tanpa sedikitpun diberikan jalan untuk lewat Gumamku… bangsat!Semua orang ingin sampai dengan cepat Tanpa memikirkan kata selamat Mungkin hidup mereka terlalu terikat akhirnya mereka harus taat dengan peraturan yang dibuat Tanpa ampun bagi kita sebagai …

Continue Reading
Puisi

Di Maqbarah

Omah Aksoro, Di maqbarah, banjir do’a banjir air mata banjir luka banjir segalanya Kalam-kalam Ilahi berceceran dimana-mana Di fammu para santri baru yang belum kerasan Di fammu para santri huffadz yang mendarasnya dengan tekun Serta di fammu para musafir yang hatinya kering kerontang Di maqbarah, tempat peristirahatan terakhir para sesepuh Menjadi tempat mengadu paling ampuh

Continue Reading
Puisi

Bukan maksudku begitu

Omah Aksoro, Bukan maksudku begituMungkin kau salah paham dengankuAku ingin yang terbaik untukmuTapi kau menuduhku memojokanmuseolah kau menganggap aku iri padamu Bukan maksudku begitudengarkanlah apa yang aku ucapkan lebih dahuludaripada kau menerka-nerka yang tidak-tidak apa yang ingin ku katakantak bisakah semenit saja kau menjadi pendengar yang baik untukku?Buanglah sedikit egomu tuk mendengar jeritan hatiJeritan hati …

Continue Reading
Puisi

Haul dan Harlah

Omah Aksoro, Aku mendengar lantunan shalawat Nabi dari serambi masjid pesantrenku Lalu dilanjutkan dengan pembacaan wahyu-wahyu sang Nabi Disusul dengan gema tahlil dari para santri sebagai hadiah bagi keselamatan para kiyai Muassis serta para wali santri tak luput dari banjir tasbih tahmid dan takbir hadirin Di luar arena, aku melihat ribuan kepala manusia layaknya tsunami …

Continue Reading
Puisi

Pojok Malam

Omah Aksoro, Embun terbelah cahaya bersinar dari gelapTetesan terpusat dari kalbu terbawa seringai burung-burungPohon-pohon menghujat dirikuBahwa aku mulai menggoda manis wajahmuSenyummu membelah harga dari duriTergurai indah rambut tengkurap tidak kuartikanKuhendakkan diri mengenal wajah berwarna haru Pojok malam tergurai cahaya bekas pagutan tentangmuAku mengukir indah bahasa tubuhmu di urat-urat dedaunanTerbawa angin yang terbuat dari sajak para …

Continue Reading