Celomet

Bagaimana Mungkin Minyak Mentah Menjadi Tidak Berharga?

Dulu, sudah lama sekali, ketika belajar geopolitik dan geostrategi, ada sebuah kutipan pamungkas dari Deep Stoat. Begini bunyinya “If you would understand world geopolitics today, follow the oil”. Jika kau ingin memahami geopolitik dunia, maka ikutilah aliran minyak. Kalimat tersebut sedikit banyak memberikan pencerahan bagi pemula seperti saya ketika belajar geopolitik dan geostrategi dulu. Lantas kenapa minyak dan gas? Sejak industrialisasi terjadi besar-besaran di seluruh belahan dunia, minyak dan gas menjadi primadona.

Hampir semua negara berebut menguasai sumber-sumber energi. Mulai dari invasi militer hingga cara lembut melalui investasi modal dilakukan. Industrialisasi membutuhkan supply energi untuk terus memutar roda produksi. Semakin banyak komoditas barang dan jasa yang dihasilkan, semakin bertumbuh ekonomi suatu negara. Kita mati-matian mengejar pertumbuhan ekonomi yang bahkan hanya merupakan salah satu aspek dalam pembangunan ekonomi.

Lantas apa yang akan terjadi ketika industri terhenti? Dan apakah mungkin industrialisasi berhenti? Sayangnya, pandemik Covid-19 membuat hal tersebut menjadi mungkin. Lantas masihkah energi minyak dan gas menjadi primadona?

Per 20 April 2020, The New York Times menyebutkan bahwa harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) jatuh hingga menyentuh -$37,63 per barrel untuk kontrak Mei, iya negatif. Artinya traders ataupun produsen harus membayar biaya storage (tempat penyimpanan minyak) kepada pembeli untuk setiap barrel minyak yang diambil dari mereka.

Mengapa demikian? Supply minyak mentah melimpah, sementara di sisi lain, demand menurun drastis. Pandemik Covid-19 menyebabkan berbagai industri penyerap supply minyak berhenti beroperasi. Kebijakan lockdown di berbagai negara, serta keharusan melakukan penjarakan fisik tidak memungkinkan industri-industri beroperasi.

World Economic Forum menyebutkan, minyak mentah diperdagangkan dengan kontrak bulanan yang disebut future. Pembelian future, mengharuskan traders melakukan physical delivery terhadap minyak setiap bulan ke pembeli. Namun, seiring dengan tersungkurnya permintaan akan minyak, traders dan produsen kelabakan menghadapi produksi minyak yang melebihi demand, serta storage yang melebihi kapasitas.

Hukum besi supply-demand terjadi, ketika pasokan minyak melimpah hingga seluruh penyimpanan minyak penuh, namun di sisi lain kebutuhan energi dunia merosot tajam maka kiamat bagi produsen minyak. Every barrel worth less than nothing.

Pertanyaan selanjutnya, apakah negara-negara produsen minyak tidak melakukan upaya guna menjaga harga minyak?

Amerika Serikat sedang mempersiapkan storage lain ketika seluruh storage hampir penuh. Sementara Rusia dan Saudi yang ekonominya bergantung pada minyak, dengan terpaksa men-cut produksi untuk menekan supply minyak sambil berharap demand segera membaik.

Indonesia? Kita sebagai pengimpor minyak, harusnya dapat menikmati harga minyak murah, namun … (silakan isi sendiri saya mau masak dulu).

Tinggalkan Balasan