Celomet

CURIGA

Omah Aksoro – Apa beda antara skeptis dan curiga? Pertanyaan ini menyembul begitu saja. Kurang ajar memang, sementara pagi belum siap untuk diajak berkelahi, tapi saya sudah harus berhadapan dengan pertanyaan jahanam ini.

Kamus, tentu saja sedikit menolong. Meskipun definisi konseptual yang ditawarkan kurang begitu jelas, tapi minimal ia bisa memberi kata kunci bahwa curiga itu berhati-hati karena khawatir. Sementara skeptis adalah kurang percaya atau ragu-ragu.

Baik hati-hati karena khawatir maupun ragu-ragu, jika dipikir-pikir keduanya sama belaka. Keduanya bisa diringkus dalam definisi “keadaan ketika hati dan pikiran berkata ‘jangan-jangan….’ atau barangkali ‘ah masa?’”

Namun itu baru penelusuran awal. Masih sangat mungkin “perkiraan akademik” saya itu keliru, bahkan salah.

Justru yang sedang saya gelisahkan adalah apakah tidak ada garis demarkasi yang tegas antara apa yang disebut dengan curiga dengan apa yang dikatakan sebagai skeptis? Jika ada apakah ia berkait kelindan dengan kebiasaan, cara berpikir atau bahkan kebudayaan?

Orang dikatakan curiga itu ketika bagaimana dan apa yang pantas dicurigai. Pun demikian orang dikatakan skeptis dalam kondisi bagaimana dan pada peristiwa apa. Ini penting sebab dua kata itu: curiga dan skeptis tidak bisa kita tempatkan seenak udel kita sendiri. Terhadap kajian ilmiah kita wagu untuk mengatakan “saya mencurigai teori relativitas Einstein” yang galib digunakan “saya skeptis terhadap……”

Mungkin, sekali lagi mungkin—meminjam analisis Sapir dan Worf—ada kelindan yang sangat erat antara bahasa dengan budaya. Akibatnya, tajam dan tumpulnya bahasa juga memiliki korelasi langsung dengan miskin dan kayanya sebuah budaya.

Maksud saya begini: saya mengamati bahwa kesibukan pendidikan tinggi, mulai tingkat sarjana sampai doktoral, perhatiannya lebih kepada bagaimana teknik menulis dengan baik sehingga terhindar dari kungkungan plagiarisme. Maka perguruan tinggi lebih sibuk mengurus tata cara menulis anotasi untuk menghindari plagiasi. Lebih sibuk ke teknik dari pada substansi. Lebih suka bermimis-mimis ria dengan kutipan dan catatan kaki dibandingkan merawat dan memoles ide serta gagasan dengan baik.

Ujungnya, semoga saya salah, tradisi yang seperti ini sangat mungkin akan melahirkan produk “generasi yang miskin produksi”. Generasi ini jika berbiak dan berevolusi tentu saja akan membentuk gugusan kebudayaan yang tentu saja miskin karya dan produksi pula. Karena kita miskin produksi, maka yang akan muncul mula-mula adalah sikap curiga—bukan skeptis—terhadap apa saja: termasuk karya-karya ilmiah.

Ini yang nampaknya lamat-lamat namun pasti sedang terjadi di dunia pendidikan kita. Kita harus tahu “Yang dibutuhkan oleh produk pembelajaran bukanlah ujian mematikan, melainkan atensi yang menghidupkan. Terhadap setiap kekurangan, sudut pandang negara miskin produksi adalah menuding, bukan menambal dan membenahi.” Begitu kata buku “Waras di Zaman Edan”, 54.

Pun juga yang terjadi pada hari ini, saat semua aktivitas “dirumahkan” termasuk sekolah. Lembaga pendidikan tiba-tiba menjadi monster yang kikir. Murid-murid dijejali sekian tugas. Mereka menjadi semakin sibuk ketimbang saat belajar di waktu normal. Kita sedang menghadapi wabah, kita sama-sama sedang dirundung masalah, tapi pendidikan bukan malah memberi solusi dan justru semakin membebani.

Pelajaran penting hari ini, menjadi guru dan pengajar itu mudah. Cukup kuasai satu disiplin ilmu, beres. Yang susah di masa belajar dari rumah hari ini adalah menjadi orang tua. Sebab menjadi orang tua di musim wabah seperti ini, berarti harus bisa dan menguasai ilmu apa saja, termasuk ilmu mengendalikan emosi karena harus mengajari anak-anak dengan seabrek PR yang naudzubillah setan.

Tinggalkan Balasan