Celomet

OREO SUPREME DAN HASRAT MANUSIA

Omah Aksoro – Tulisan ini merupakan sebuah catatan kecil saya sebagai respon atas fenomena Oreo Supreme yang sempat viral di jagad maya beberapa hari terkahir.

Belum lama ini, publik dihebohkan dengan kolaborasi Oreo dengan sebuah brand ternama dunia, Supreme. Kolaborasi tersebut menghasilkan biskuit Oreo berwarna merah dan bertuliskan Supreme yang kemudian viral di dunia maya. Oreo Supreme dijual dengan harga Rp. 500 ribuan di berbagai e-commerce di Indonesia. Harga yang cukup mahal untuk tiga keping biskuit.

Lantas, apa yang membuat seseorang rela membayar Rp. 500 ribuan hanya untuk tiga keping biskuit? Apa yang membuat tiga keping biskuit bertuliskan Supreme memiliki nilai yang tinggi? Apa yang menjadi sumber nilai bagi tiga keping Oreo Supreme? Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan berusaha saya urai dalam beberapa paragraf selanjutnya.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita harus kembali memikirkan soal apa yang memungkinkan sebuah komoditas memiliki nilai. Kita bisa saja mengatakan bahwa Oreo Supreme menjadi bernilai karena brand Supreme yang melekat padanya. Atau mungkin kita bisa saja menduga bahwa bahan baku yang digunakan untuk membuat Oreo Supreme adalah bahan-bahan premium. Tapi, apakah Oreo Supreme masih memiliki nilai apabila tidak ada yang menginginkannya? Sayangnya tidak.

Sebuah komoditas memiliki nilai sejauh manusia menghasratinya, dengan kata lain, nilai komoditas merupakan cerimanan dari intensitas hasrat manusia terhadapnya (Sewall, 1901). Oreo Supreme menjadi bernilai karena ada menginginkannya, ada yang memiliki hasrat atas komoditas tersebut. Manusialah yang menentukan sesuatu itu bernilai atau tidak. Sejauh sesuatu itu diinginkan, sejauh itu pula ia memiliki nilai.

Oreo Supreme bisa saja dikemas dengan citra ekslusif lewat berbagai informasi di sosial media. Ekslusivitas yang dibangun melalui pelepasan produk secara terbatas pada akhirnya mendorong antusiasme yang tinggi atas komoditas tersebut. Beberapa influencer yang mereveiw Oreo Supreme juga turut menyumbang rasa penasaran akan seperti apa rasanya mengkonsumsi biskuit seharga Rp. 500 ribuan.

Tapi, apakah hasrat untuk mengkonsumsi yang hadir dari citra ekslusivitas suatu produk meniadakan analisis akhir kita akan derajat kepentingan suatu produk? Carl Manger (1840-1921) menjawab hal ini dengan mengatakan bahwa kognisi akan dunia eksternal hanya mengemuka sebagai kesadaaran kita tentang kesan yang dibuat oleh benda eksternal pada diri kita dan, pada analisis terkahir, hanyalah kognisi atas kondisi diri kita sendiri.

Artinya, analisis akhir atas perlu tidaknya kita membelanjakan uang Rp. 500 ribuan untuk tiga keping biskuit yang kita pikir ekslusif tersebut, hanyalah luapan dari derajat perlu tidaknya kita menjadi hype dan tergolong orang-orang khusus yang bisa mengkonsumsi biskuit seharga Rp. 500 ribuan itu.

Dengan demikian, nilai bukanlah sesuatu yang inheren melekat pada komoditas. Nilai merupakan evaluasi subjektif calon konsumen, sehingga nilai dikonstitusikan pada ranah sirkulasi (Suryajaya, 2013). Tidak ada nilai inheren yang melekat pada Oreo Supreme, yang ada hanyalah nilai dalam relasinya dengan konsumen. Seperti yang ditulis Nicholas Barbon dalam karyanya Discourse of Trade (1690), bahwa “barang-barang tidak mempunyai nilai pada dirinya; opini dan kebiasaanlah yang membuatnya berguna dan memberinya nilai”.

Untuk memiliki nilai, sebuah komoditas harus bermanfaat dan langka. Penilaian atas manfaat komoditas sepenuhnya adalah hasil evaluasi subjektif manusia. Oreo Supreme menjadi bernilai ketika calon konsumen melihatnya sebagai sesuatu yang memiliki kegunaan yang muncul dari hasrat dan imajinasinya.

Langka dalam hal ini selain memiliki jumlah terbatas tentunya memiliki manfaat. Oreo Supreme diproduksi dalam jumlah terbatas sehingga menjadi langka, kelangkaan ini yang memunculkan curiosity. Kolaborasi antara kelangkaan dan curiosity inilah yang mendorong konsumen memiliki hasrat untuk mengkonsumsi Oreo Supreme. Hasrat inilah yang menjadi sumber nilai sebuah komoditas.

Seperti yang dicatat di muka, nilai sebuah komoditas muncul dari relasi antara manusia sebagai agen ekonomi dan komoditas tersebut. Pada dasarnya, relasi ini merupakan ekspresi dari upaya manusia sebagai agen ekonomi dalam memaksimalkan kenikmatan (Suryajaya, 2013). Sebab watak alamiah manusia pada dasarnya akan selalu berupaya memaksimalkan kenikmatan dengan meminimalisir rasa sakit. Hal ini membenarkan tesis dasar Jeremy Bentham tentang sebuah postulat yang tak terbantahkan, bahwa setiap tindakan manusia ditentukan oleh keinginan untuk meningkatkan kenikmatan dan menghindari rasa sakit.

Upaya untuk menyangkal postulat ini mensyaratkan postulat itu sendiri. Seseorang yang hidup asketik, misalnya, tetaplah mengupayakan kenikmatan, yakni kenikmatan yang diperoleh entah dari imbalan di masa depan atas perilaku asketiknya di masa kini ataupun dari pujian orang lain (Bhentam, 1970). Kita boleh saja tidak bersepakat bahwa manusia selalu mengejar kenikmatan, tapi kita tidak bisa tidak bersepakat bahwa upaya kita menghindari rasa sakit dan penderitaan juga merupakan kenikmatan.

Tinggalkan Balasan