Celomet

Perempuan dan Ucapan Selamat Hari Kartini

“Berbahagialah suami-istri yang sama-sama bekerja, maka haknya pun sama di hadapan dewa dan manusia.” –Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer.

Saya sepenuhnya sepakat dengan apa yang Pram maksud lewat tulisannya di atas. Bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama belaka. Tapi dalam segi penyampaiannya lewat tulisan tersebut, saya agaknya masih ragu-ragu. Meski Pram menyampaikannya dengan bahasa yang cukup indah.

Perempuan, seperti apa yang pernah Ortner sampaikan lewat tesisnya “Is Female to Male as Nature is to Culture?”. Perempuan selalu dianggap sebagai subordinat dari laki-laki yang ordinat. Perempuan tak pernah utuh. Perempuan selalu berada pada posisi kedua setelah laki-laki. Meskipun dalam suatu masyarakat perempuan memiliki kekuasaan penuh, namun tetap saja dia adalah subordinat.

Tesis ini mengatakan bahwa perempuan adalah nature, karena ia dianggap sebagai suatu objek reproduksi, sedangkan laki-laki sebagai culture karena ia satu-satunya subjek produksi. Laki-laki seorang creator yang aktif, sedang perempuan seorang penerima yang pasif.

Adanya devaluasi terhadap konsep nature dan pengembangan konsep culture inilah yang kemudian melahirkan sebuah gagasan bahwa kebudayaan mengontrol alam, membuat sifat nature di sini menjadi subordinat.

Padahal, menurut Simone de Beauvoir, perempuan dan juga laki-laki sama saja, keduanya tak lebih dari sekadar unit-unit ekonomi. Dalam magnum opusnya “The Second Sex”, ia mengatakan bahwa kesadaran perempuan terhadap dirinya tidak ditentukan secara eksklusif oleh seksualitasnya melainkan pada organisasi ekonomi masyarakat. Karena bagi Simon, tidak ada dalam sejarah manusia, penguasaan atas dunia ditentukan oleh ketelanjangan.

Mengutip Engels dalam The Origin of the Family, Private Property, and the State,  bahwa sejarah perempuan secara esensial bergantung pada teknik.

Pada zaman batu, ketika tanah menjadi milik bersama semua anggota klan, dan belum sempurnanya sekop dan cangkul yang masih primitif, kekuatan perempuan lebih dibutuhkan untuk mengelola tanah dan berkebun. Dalam pembagian tenaga kerja secara primitif ini, kedua jenis kelamin tersebut (laki-laki dan perempuan) membentuk dua kelas, dan terdapat persamaan antara dua kelas ini, tidak ada ketimpangan apalagi opresi.

Sementara laki-laki berburu dan mencari ikan, perempuan tetap di rumah; meski dalam tugas-tugas rumah tangganya meliputi pula pekerjaan yang produktif –yaitu membuat barang-barang dari tanah liat, menenun, berkebun- dan sebagai konsekuensinya perempuan memainkan peran penting dalam kehidupan perekonomian.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saat tembaga, timah, perunggu, besi, dan adanya penemuan alat untuk membajak tanah, serta cakupan pertanian yang meluas sehingga membutuhkan pekerjaan yang intensif untuk mengelola tanah dan membersihkan hutan. Laki-laki selanjutnya membutuhkan tenaga laki-laki yang lain. Maka dari sanalah muncul kepemilikan pribadi, penguasaan atas bumi tidak terkecuali kepemilikan tubuh perempuan. Pembagian kerja yang setara telah lenyap oleh penemuan teknik-teknik baru.

Jadi, keragu-raguan saya atas penyampaian Pram lewat kutipan di atas adalah bahwa sejatinya perempuan (telah) memiliki hak yang sama dengan laki-laki sejak ia lahir ke bumi. Bukan sebab ia bekerja, kemudian ia mendapatkan hak yang sama. Bukan juga sebab ia menulis, ia mendapatkan posisi yang sama dengan laki-laki.

Selamat hari Kartini.

Moh. Faiz Maulana
Jakarta, 21 April 2020

Tinggalkan Balasan