Puisi

Gumam Kemanusiaan di Dalam Pesakitan

Omah Aksoro,

Ketika udara menjadi dikuasai racun dalam kehidupan

Masuk ke kehidupan bangsaku, 

Ke dalam setiap raga, 

Lalu melumpuhkan kemanusiaan. 

Racun yang bernyanyi-nyanyi sambil menari, 

Mengusik telinga Izrail, seperti berkata:”Lanjutkan kerjamu, lanjutkan kerjamu!” 

Di dalam pesta, mereka memakan seluruh manusia. 

Ya, seluruh manusia!

Mereka tidak melihat kehormatan, jabatan, profesi, bahkan tabib mereka tumbangkan.

Hei, kau persekutuan racun sedunia!

Kami tahu, bahwa kalian adalah persekutuan yang kesasar!

bukanlah kami persinggahan yang seharusnya!

Tetapi, kami sadar, bahwa kami telah membuat perut dan nafsu kami terpuaskan dengan memakan persinggahan kalian!

Kami tahu betapa sakitnya kehilangan tempat tinggal dan tercerabutnya hak untuk hidup, 

Meskipun itu, telah menjadi hukum yang berlaku dalam kehidupan. 

Kami memang telah mengubah pohon dan binatang sebagai makanan.

Tidak! Kau melawan hukum rimba!

Kamilah yang paling kuat di muka bumi, kamilah pemimpin makhluk bumi!

Kau melawan alam! 

karena pada dasarnya: bagaimana mungkin kalian yang sangat kecil, mematikan kami yang penguasa, yang besar, yang berakal dan mampu memakan segalanya?

Kalian harus mengingat, bahwa Tuhan adalah pencipta kita semua!

Hanya dia yang pantas memberi kami pesakitan

Dan dari pesakitan itu, kita pantas diberi ketakutan.

Kau merampasnya sekarang dariNya! 

Apa jadinya ini, apabila sekelompok racun menjadi lebih ditakuti daripada yang menciptakan racun? 

Kalian memang keterlaluan!

Kau matikan juga, rasa kemanusiaan kami, yang menjadi pembeda antara kami dan kalian!

Sejak adanya kalian, seorang manusia yang mati, masih saja kami anggap menjadi ancaman!

Kalian makhluk apa? 

Peperangan melawan kami dengan mudahnya dimenangkan, 

Karena bagaimana mungkin bisa berperang, apabila kami kehilangan rasa sosial,

Lalu kau buat kami kebingungan untuk bersatu di dalam ketakutan. 

Semesta yang terang menjadi gelap,

Ketika melihat angkasa, kami melihat peti mati saudara kami yang kau hancurkan.

Ketika melihat ke tanah, kami melihat lubang kubur saudara kami yang telah kau gali.

Kami melihat ke depan, kalian lemparkan abu ketakutan.

Dan saat melihat ke belakang, kami melihat diperbesarnya catatan tentang segala kealpaan kami sebelumnya.

Racun-racun! segeralah kembali, kami akan membuat persinggahan dan menghormati kehidupan.

Jangan sampai ke peraduan, bahwa engkau lebih ditakutkan daripada Dia yang bernama Tuhan.

Bekasi, 3 April 2020

Tinggalkan Balasan